BANJARBARU, tilikbanua.com – Pengerjaan embung air darurat di kawasan hutan lindung Jalan Gubernur Syarkawi Kabupaten Banjar mulai dikebut hingga rampung, Senin (19/10/2026).
Lokasinya berbatasan langsung dengan lahan warga yang selama ini juga terdampak kebakaran hutan dan lahan.
Kolaborasi strategis antara Gubernur Kalimantan Selatan Muhidin dan Kapolda Kalsel Irjen Pol Rosyanto Yudha Hermawan ini disiapkan sebagai pangkalan pasokan air dan pencampuran zat pembasah (surfaktan) untuk helikopter water bombing.
Gubernur Muhidin menjelaskan, lokasi embung tersebut memanfaatkan eks lahan program ketahanan pangan Polda Kalsel yang sebelumnya ditanami jagung.
Semula, dimensi embung direncanakan seluas 50×25 meter, namun akhirnya disesuaikan menjadi 20×20 meter dengan target kedalaman digenjot hingga 4 meter
“Kita berada di daerah hutan lindung perbatasan dengan tanahnya saudara kita Waluyo, pemilik lahan yang mana dulu dimanfaatkan oleh Kapolda untuk menanam jagung. Kembali di sini kita gunakan untuk membuat embung kecil,” ujar Muhidin di lokasi peninjauan.
Ia memaparkan, uji coba awal sempat dilakukan saat kedalaman embung baru mencapai dua meter. Namun, volume air dirasa belum maksimal untuk menunjang daya sedot armada water bombing.
Oleh karena itu, pendalaman hingga empat meter digenjot dengan bantuan alat berat yang disiapkan langsung oleh sang pemilik lahan.
“Tadi sudah dicoba, cuma kedalamannya 2 meter, jadi tidak maksimal waktu water bombing mengambil. Kita mengupayakan itu dalamnya paling nggak 4 meter nanti. Jadi 4 meter kali 20 kali 20,” tegasnya.
Gubernur memastikan, sistem pengairan pada embung ini aman dari endapan lumpur tebal karena menggunakan pompa air terapung.
Nantinya, air di kolam penampungan tersebut akan langsung dicampur dengan cairan kimia surfaktan hasil racikan Polda Kalsel mulai hari Senin mendatang.
“Nah, ini nanti Senin itu sudah bisa dicampur surfaktan dengan Pak Kapolda, sudah kita campur. Untuk mengisinya, Waluyo juga ada alatnya. Pengairan di sini tidak ada gangguan untuk lumpur ataupun air-air karena dia terapung. Nah inilah, jadi nanti sore selesai,” pungkasnya.
Sementara itu, Waluyo selaku pemilik lahan yang turut mendampingi pengerjaan proyek taktis ini menyatakan kesiapannya merampungkan pembuatan embung tepat waktu.
Ia juga membeberkan tantangan berat di lapangan, mengingat karakteristik lahan gambut di kawasan tersebut memiliki kedalaman hingga hampir tiga meter dengan luas area yang harus dibasahi mencapai sekitar 300 hektare.
“Pada sore ini kita sudah bisa selesaikan untuk pembuatan embungnya. Untuk pencampuran chemical-nya mungkin nanti Senin sudah bisa digunakan ya, untuk tim Polda,” ujar Waluyo.
Ia mengakui proses pembasahan lahan gambut seluas ratusan hektare tersebut membutuhkan waktu yang tidak sebentar dan penanganan intensif.
“Pembasahan lebih dari dua bulan. Ya, cuma gambut itu dalam hampir 3 meter ya. Jadi kita pembasahan, di sini kan yang kita basahinya hampir 300 hektare ya, jadi lumayan agak lama memerlukan waktunya. Jadi kita coba pakai cairan yang dari Polda, kemudian kita bisa membasahkan api,” tandasnya. (Caca/Razie)


