tilikbanua.com
Politik

Dampak Asap Karhutla, Balita dan Anak-Anak Jadi Korban Utama ISPA di Banjarbaru

BANJARBARU, tilikbanua.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Kalimantan Selatan tidak hanya memicu masalah lingkungan, tetapi juga menghantam kesehatan kelompok paling rentan yakni anak-anak dan balita.

Kabut asap pekat yang terjadi di Kota Banjarbaru terbukti menjadi dalang utama melonjaknya kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di daerah tersebut.

Berdasarkan data Rumah Sakit Daerah (RSD) Idaman Kota Banjarbaru, kelompok anak-anak mendominasi daftar pasien ISPA sepanjang bulan September.

Dari total 338 kasus yang ditangani, lonjakan paling signifikan terjadi pada balita usia 1 sampai 4 tahun, yakni sebanyak 95 kasus. Angka ini naik dari bulan Agustus yang mencatatkan 82 kasus.

Tak hanya balita, kelompok anak usia 5 sampai 9 tahun menempati urutan kedua terbanyak dengan 63 kasus pada September dan 72 kasus pada Agustus.

Bahkan, bayi berusia di bawah 1 tahun yang paparannya sangat terbatas pun tak luput dari ancaman, di mana kasusnya melonjak dari 16 kasus pada Agustus menjadi 26 kasus pada September.

Juru Bicara RSD Idaman Banjarbaru, Muhammad Abrar, menegaskan bahwa daya tahan tubuh anak-anak belum sematang orang dewasa, sehingga mereka menjadi pihak yang paling terancam saat kualitas udara memburuk.

“Anak-anak, khususnya balita, memiliki saluran pernapasan yang lebih kecil dan sistem imun yang belum sempurna. Kabut asap ini bukan sekadar asap biasa, tetapi membawa partikel debu halus dan mikroba yang sangat gampang mengiritasi paru-paru anak. Itulah mengapa lonjakan kasus ISPA paling tinggi ada di usia 1 sampai 4 tahun,” terang Abrar, Selasa (6/10/2026).

Abrar mengimbau para orang tua untuk lebih ekstra dalam menjaga buah hati mereka di tengah kondisi udara yang tidak sehat.

“Kami sangat menyarankan para orang tua untuk membatasi aktivitas anak di luar rumah. Jika memang terpaksa harus keluar, pastikan anak memakai masker yang sesuai dan tingkatkan asupan gizi serta cairan mereka. Jika anak mulai menunjukkan gejala batuk, pilek, atau sesak napas, segera bawa ke fasilitas kesehatan terdekat sebelum kondisinya memburuk,” tegasnya.

Secara keseluruhan, akumulasi kasus ISPA di RSD Idaman Banjarbaru pada September meningkat dibanding Agustus yang mencatatkan 312 kasus.

Dari sisi gender, pasien perempuan pada September melonjak menjadi 188 orang (naik dari 153 pada Agustus), sementara pasien laki-laki berjumlah 150 orang (turun dari 159 pada Agustus).

Selain kelompok anak-anak, data rekam medis RSD Idaman Banjarbaru mencatat dinamika kasus pada kelompok usia lainnya.

Pada bayi usia neonatus (0–7 hari dan 8–28 hari), tidak ditemukan adanya kasus ISPA baik di bulan Agustus maupun September.

Pada kelompok usia sekolah (10–14 tahun), tercatat ada 24 kasus di bulan September, sedikit turun dari 27 kasus pada bulan sebelumnya.

Sebaliknya, kelompok remaja (15–19 tahun) mengalami peningkatan cukup terasa, dari 19 kasus pada Agustus menjadi 33 kasus pada September.

Untuk usia dewasa produktif (20–44 tahun), jumlah penderita melandai dari 66 kasus pada Agustus menjadi 56 kasus pada September. Namun, tren kenaikan kembali terlihat pada kelompok pra-lansia dan lansia:
• Usia 45–54 tahun: Naik dari 10 kasus (Agustus) menjadi 16 kasus (September).
• Usia 55–59 tahun: Naik dari 7 kasus (Agustus) menjadi 11 kasus (September).
• Usia 60–69 tahun: Stabil di angka 9 kasus selama dua bulan berturut-turut
• Usia 70 tahun ke atas: Naik tipis dari 4 kasus (Agustus) menjadi 5 kasus (September). (Caca/Razie)

Related posts

​Tangis Dini Hari di Telaga Biru: Bayi Laki-Laki Ditinggalkan Berbalut Kain di Teras Rumah Warga

razie albanjari

Ekskalasi Karhutla di Kalimantan Tembus 100 Ribu Hektare, YEHI Desak Pemerintah Evaluasi Tata Kelola Lingkungan

razie albanjari

Hari Ke-12 Operasi SAR, Protokol Karantina Ketat BKK Kawal Evakuasi Jenazah Korban KM Virgo

razie albanjari

Leave a Comment