BANJARBARU, tilikbanua.com – Kondisi kualitas udara di Kota Banjarbaru dan sekitarnya mendadak memburuk dalam beberapa hari terakhir.
Kabut tebal yang diduga merupakan asap kembali mengepung sejumlah titik, salah satunya dirasakan warga di kawasan Liang Anggang, Kota Banjarbaru, Kamis (15/10/2026).
Berdasarkan hasil pemantauan Stasiun Klimatologi Kalimantan Selatan (Kalsel), konsentrasi partikulat halus dengan ukuran kurang dari 2.5 mikrometer (PM2.5) pada hari ini pukul 00.00 WITA hingga 08.00 WITA umumnya berada pada kategori Tidak Sehat.
Puncaknya, konsentrasi partikulat tertinggi tercatat menyentuh angka 102,5 mikrogram per meter kubik (µgram/m3) pada pukul 07.00 WITA, yang tetap berada dalam kategori Tidak Sehat. Tingginya konsentrasi polutan ini membuat jarak pandang dan kesehatan warga langsung terdampak secara signifikan.
Kembalinya kabut tebal ini memicu tanda tanya besar di kalangan warga setempat. Pasalnya, dalam beberapa hari ke belakang, tidak ada lagi laporan kejadian kebakaran hutan atau lahan (karhutla) hebat di sekitar wilayah permukiman mereka.
Nur Hasanah, seorang warga RT 1 RW Kelurahan Landasan Ulin Selatan, Kecamatan Liang Anggang, mengaku heran dengan kemunculan kabut pekat yang dirasakannya sejak tiga hari belakangan.
“Kabut pekat tebal beberapa hari ini lagi. Ini beberapa hari, sempat semalam enggak ada lagi, tapi ini tebal lagi tiga hari ini,” ujar Nur Hasanah saat ditemui, Kamis (15/10/2026).
Ia menegaskan bahwa di wilayah tempat tinggalnya sudah lama tidak ada lagi insiden kebakaran. Namun, kabut tiba-tiba datang tanpa diketahui secara pasti dari mana asalnya.
“Kejadian kebakaran di sini semalam sudah lama, beberapa hari belakangan enggak ada kebakaran. Dan ini enggak ada lagi, tapi kabutnya tiba-tiba ada lagi, enggak tahu datang dari mana kabutnya,” tambahnya.
Paparan kabut tebal dengan kategori tidak sehat ini langsung berdampak pada pernapasan warga.
Nur Hasanah mengaku kondisi tersebut sangat mengganggu aktivitas hariannya, terutama saat ia harus beraktivitas di luar ruangan untuk bekerja mengupas kayu galam.
Meski menyadari udara pagi yang dihirupnya berbahaya bagi kesehatan, faktor kebiasaan membuat sebagian warga masih enggan melindungi diri secara konsisten.
“Mengganggu pernapasan ini, saya mau berangkat kerja mengupas kayu galam. Kadang pakai masker, kadang enggak pakai masker,” tutupnya. (Caca/Razie)


