tilikbanua.com
Berita Utama

Dampak Kabut Asap Kalsel, Pesawat Baling-Baling Masih Terkendala Visibility

BANJARBARU, tilikbanua.com – Paparan kabut asap tipis yang menyelimuti area Bandara Internasional Syamsudin Noor, Banjarbaru, Kalimantan Selatan, mengungkap perbedaan ketahanan operasional berdasarkan jenis armada penerbangan.

Di saat pesawat jet komersial berbadan sempit tetap melenggang bebas mengudara, pesawat jenis baling-baling (propeller) terpaksa tertahan menanti jarak pandang aman.

General Manager PT Angkasa Pura Indonesia Bandara Internasional Syamsudin Noor, Stephanus Millyas Wardana, menyampaikan bahwa sebaran kabut asap yang melanda wilayah Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, hingga Kalimantan Barat memang memberi pengaruh terhadap situasi penerbangan.

Meski demikian, Stephanus menegaskan bahwa dampak kabut asap di Bandara Syamsudin Noor secara keseluruhan masih masuk dalam kategori minor.

Pada pagi hari, jarak pandang (visibility) di area landasan rata-rata berada di kisaran 1.000 hingga 1.200 meter. Kondisi ini menciptakan dinamika operasional yang berbeda tergantung spesifikasi armada yang digunakan maskapai.

“Kalau untuk pesawat sekelas narrow body seperti Boeing dan Airbus, kondisi ini sudah tidak ada masalah, sudah bisa beroperasi. Namun, dampak penundaan penerbangan masih dirasakan oleh pesawat yang menggunakan propeller,” ujar Millyas saat ditemui di terminal keberangkatan Bandara Syamsudin Noor, Rabu (30/9/2026).

Ia mencontohkan, salah satu yang terdampak langsung adalah penerbangan pagi rute Balikpapan yang mengoperasikan pesawat tipe ATR milik Wings Air.

Untuk dapat lepas landas maupun mendarat dengan aman, armada jenis baling-baling ini membutuhkan batas minimum jarak pandang yang lebih tinggi dibandingkan pesawat jet.

“Kebetulan kita ada rute pagi ke Balikpapan dan menggunakan ATR Wings Air, nah itu yang terdampak. Mereka biasanya harus menunggu sampai visibility berada di atas 1.500 meter, baru bisa aktif beroperasi. Jadi potensi delay itu ada, tapi sifatnya terbatas di penerbangan pagi saja,” jelasnya.

Di sisi lain, tidak memungkinkan operasional lepas landas dan pendaratan di sejumlah bandara Kalimantan Tengah akibat pekatnya asap justru memicu pergeseran arus penumpang ke Kalimantan Selatan.

Warga dari Kalteng memilih menempuh jalur darat menuju Banjarbaru untuk mengejar penerbangan.

Fenomena ini mendongkrak trafik harian di Bandara Syamsudin Noor sekitar 15 hingga kurang dari 20 persen. Jumlah penumpang yang biasanya berkisar di angka 3.500 orang per hari, melesat hingga menembus di atas 4.000 orang pada beberapa periode hari terakhir.

Tingginya pergerakan warga Kalteng ini juga terkonfirmasi dari maraknya kendaraan berpelat nomor KH yang memadati area parkir bandara.

Merespons lonjakan penumpang tersebut, maskapai Citilink menyesuaikan langkah operasinya dari Palangka Raya dengan menambah satu penerbangan ekstra (extra flight) rute Banjarmasin–Jakarta yang dijadwalkan beroperasi hingga tanggal 30 bulan ini. (Caca/Razie)

Related posts

Ditiup Angin Kencang, Karhutla di Pengayuan Banjarbaru Makin Membesar dan Ancam Permukiman Warga

razie albanjari

Api Membakar Lahan Lokrawa, H. Taufik Rahman Nyalakan Semangat Relawan Karhutla

razie albanjari

Tiga Helikopter Siap Maksimalkan Evakuasi Udara Korban KM Virgo Lewat Lanud Sjamsudin Noor

razie albanjari

Leave a Comment