BANJARBARU, tilikbanua.com – Suasana tegang menyelimuti keluarga Mia Melinda (28), kru musik asal Kendal, Jawa Tengah, setelah kapal yang ditumpanginya, KM Virgo Transport 8, tenggelam di perairan Laut Jawa pada Minggu (13/9/2026).
Perjuangan bertahan hidup di tengah gulungan ombak dan kesaksian emosional sang suami kini melengkapi detik-detik mencekam musibah tersebut.
Kondisi kesehatan Mia dilaporkan membaik pada Rabu (16/9/2026) setelah dievakuasi menggunakan Helikopter Dauphin HR 3601 milik Basarnas menuju Lanud Sjamsudin Noor, Banjarbaru, Kalimantan Selatan, pada Senin (14/9/2026).
Perjalanan Mia bermula dari Surabaya menuju Banjarmasin untuk bekerja sebagai kru musik kapal. Firasat buruk dan cuaca ekstrem sudah dirasakannya sejak awal keberangkatan dari Pelabuhan Tanjung Perak.
“Dari awal perjalanan itu sudah gak enak semua, udah kayak firasat. Kapal bunyi gelotak-gelotakan selama perjalanan, terus ombak juga gede,” ungkap Mia menceritakan situasi sebelum kejadian.
Sekitar pukul 22.00 WITA, Mia yang sedianya tampil mengisi acara terpaksa membatalkan pertunjukan karena kondisi tubuhnya mendadak tidak fit.
Satu jam berselang, sekitar pukul 23.00 WITA, posisi kapal mulai berubah drastis dan terasa menanjak saat dijalani.
Kepanikan puncak terjadi saat memasuki tengah malam. Kru kapal dari bagian bawah berlarian ke atas sambil berteriak memberi peringatan kepada para penumpang agar tidak tidur karena kapal sudah miring.
Mia yang kaget langsung mengabari suaminya via telepon sebelum akhirnya sibuk mencari alat keselamatan.
Meski baru satu minggu bekerja dan belum menguasai jalur evakuasi kapal, Mia nekat berlari dan memanjat ke dek atas.
“Saya lari ke atas, saya panjat. Kapal sudah miring begini, saya berada di railing kapalnya itu di atas. Saya loncat, kapal langsung terbalik,” tuturnya.
Saat melompat, kepala Mia sempat terhantam benturan besi kapal. Beruntung, hempasan gelombang membuatnya terlempar jauh sehingga tidak tersedot pusaran air dari kapal yang karam.
Hanya mengandalkan jaket pelampung, Mia mengapung di lautan luas hingga sebuah kapal tunda (tugboat) menemukannya dan memindahkannya ke kapal tongkang sekitar pukul 05.00 WITA.
Akibat cedera lebam di bagian kaki, Mia tidak mampu memanjat naik ke Kapal Haida yang mengevakuasi korban lainnya.
Ia terpaksa bertahan di kapal tongkang hingga tim helikopter Basarnas datang menjemput dan menandunya melalui udara.
Suami Mia, Sutopo, yang saat kejadian berada di Kalimantan Timur, mengungkapkan masa-masa kritis saat kehilangan kontak dengan istrinya.
“Kita panik, jam 1 sampai jam setengah 2 pagi masih komunikasi. Terakhir jam 2.20 sudah berhenti komunikasi. Terus lihat status teman jam 2 malam KM Virgo hilang kontak, saya bingung,” ujar Sutopo.
Sutopo sempat mencari informasi melalui aplikasi pemantau kapal hingga media sosial. Rasa cemasnya semakin membuncah ketika data korban selamat yang dievakuasi Kapal Haida hingga Minggu sore seluruhnya berjenis kelamin laki-laki.
“Saya lemas terus, ngabarin bapaknya kalau belum ada yang ketemu dan cuma bisa nunggu keajaiban,” lanjutnya.
Secercah harapan akhirnya datang pada Senin sore ketika pihak Basarnas menghubungi Sutopo melalui pesan singkat di aplikasi TikTok untuk mengabarkan bahwa istrinya telah dievakuasi dalam keadaan selamat.
Saat ini Mia sudah berada dalam dampingan sang suami di Rumah Sakit TNI AU Lanud Sjamsudin Noor untuk menjalani pemulihan fisik serta menunggu persetujuan prosedur pemulangan resmi dari pihak Basarnas. (caca/Razie)


