BANJARBARU, tilikbanua.com – Aksi unjuk rasa puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Se-Kalimantan Selatan di halaman Kompleks Perkantoran Sekretariat Daerah Provinsi (Setda Prov) Kalsel akhirnya rampung sekitar pukul 18.50 WITA, Rabu (30/9/2026).
Setelah melalui dinamika penyampaian aspirasi dan diskusi intensif hingga pukul 18.30 WITA, massa aksi resmi membubarkan diri secara tertib seusai dilakukannya penandatanganan lembar penerimaan tuntutan.
Koordinator Lapangan Aksi, Muhammad Ariffin, menegaskan bahwa gelombang protes kali ini tidak semata-mata dipicu oleh masalah kebakaran hutan dan lahan (karhutla), melainkan akumulasi dari berbagai persoalan krusial yang meresahkan warga Banua.
“Aksi kita hari ini bukan hanya serta-merta menuntut penanganan karhutla. Berbagai persoalan dan isu di Kalimantan Selatan turut kami suarakan, termasuk krisis air bersih dan kelangkaan BBM,” ujar Ariffin di lokasi aksi.
Meski demikian, Ariffin menyayangkan ketidakhadiran jajaran pimpinan tertinggi daerah dalam menemui massa aksi secara langsung.
“Kami ingin menghadirkan Gubernur dan Ketua DPRD Provinsi Kalsel beserta stakeholder terkait. Namun sangat ironis, sudah dua jilid kami menggelar aksi demonstrasi, Bapak Gubernur Haji Muhidin tetap tidak hadir dengan berbagai alasan,” tambahnya.
Perihal hasil kesepakatan, mahasiswa lainnya, Rizki, membeberkan bahwa dari empat poin tuntutan yang diajukan, respons yang diterima dari para instansi terbilang terbelah.
Menurut Rizki, instansi teknis dan aparat penegak hukum seperti Pertamina, PDAM, dan Polda Kalsel menunjukkan komitmen dengan menyetujui poin-poin tuntutan yang masuk dalam ranah wewenang mereka. Sebaliknya, sikap dingin justru ditunjukkan oleh pihak pemerintah daerah dan wakil rakyat.
“Tuntutan yang berhubungan dengan eksekutif dan legislatif, mereka semua menolak menandatangani. Hanya omong dan janji belaka,” ungkap Rizki.
Atas kebuntuan tersebut, BEM Se-Kalsel menegaskan akan mengonsolidasikan kembali gerakan massa yang lebih besar dalam waktu dekat.
“Rakyat Kalsel sudah muak untuk bersabar melihat Pemprov tidak menghadirkan langkah preventif maupun konkret. Kami dari BEM Kalsel akan menginisiasi gerakan kembali dan mengonsolidasikan ulang agar gerakan ini terus berlipat ganda,” tegasnya.
Menanggapi gelombang kritik mahasiswa, Sekretaris Daerah Provinsi (Sekdaprov) Kalsel, Muhammad Syarifuddin, menyampaikan apresiasi atas aspirasi yang disuarakan.
Pihaknya menegaskan bahwa Pemprov Kalsel terus bekerja keras menanggulangi karhutla yang dinilainya sebagai bencana bersama.
“Kami berterima kasih atas kritik yang disampaikan. Karhutla ini adalah bencana dan membutuhkan kolaborasi bersama. Pemprov sudah melakukan berbagai upaya, dan alhamdulillah hari ini hujan turun berkat Operasional Modifikasi Cuaca (OMC),” jelas Syarifuddin.
Syarifuddin menambahkan, ke depan pelaksanaan OMC akan makin dimaksimalkan untuk memicu curah hujan yang lebih lebat. Di samping itu, penanganan darat terus diintensifkan dengan pengerahan seluruh sumber daya manusia (SDM) yang ada.
“Di lokasi, kita selalu melakukan pembasahan dengan berbagai cara, salah satunya mengaplikasikan zat kimia surfaktan. Alhamdulillah dampaknya sangat baik. Semua SDM akan terus kita upayakan,” tutupnya.
Setelah proses penandatanganan berkas penyerahan dan penerimaan tuntutan diselesaikan oleh perwakilan yang hadir, selanjutnya massa mahasiswa perlahan merapikan barisan dan balik kanan meninggalkan lokasi pada pukul 18.50 WITA dengan pengawalan aparat kepolisian. (Caca)


