BANJARMASIN, tilikbanua.com — Gelombang kekecewaan masyarakat terkait pemadaman listrik berkepanjangan memuncak dalam aksi unjuk rasa yang digelar Aliansi Pemuda Banjarmasin di depan kantor PT PLN (Persero) UP3 Banjarmasin pada Selasa, (28/07/2026).
Di tengah barisan massa, suara lantang para ibu rumah tangga dan pelaku usaha mikro menjadi sorotan utama.
salah satu warga Banjarmasin sekaligus pelaku usaha kecil, Ari Sandrarini, meluapkan amarah dan kesedihannya akibat dampak pemadaman listrik yang dinilai sangat merugikan rakyat kecil.
Ia menyebut tindakan PLN sudah keterlaluan karena mematikan aliran listrik secara berturut-turut tanpa kepastian.
”Ya berturut-turut mati lampu. Padahal saya dapat pesanan untuk acara selamatan haul. Saya nggak bisa blender, mati lampu, gelap, susah. Akhirnya gimana? Kan merugikan saya,” ujar Ari di tengah aksi demo.
Bagi Ari, pesanan kue atau masakan lokal senilai Rp1 juta sangat berarti bagi kelangsungan hidup keluarganya.
Keuntungan sekitar Rp150 ribu dari pesanan tersebut biasanya digunakan untuk menopang kebutuhan dapur selama dua hari, terlebih sang suami tidak memiliki penghasilan bulanan tetap.
”Suami saya kerjanya nggak seperti kalian yang dapat bulanan, namanya swasta. Kadang ada kerja, kadang nggak. Jadi saya bantu-bantuan apa yang bisa dikerjakan. Tapi karena mati lampu ini, aduh semuanya pokoknya dirugikan,” tambahnya.
Selain mengeluhkan masalah operasional PLN, Ari juga menyentil ketidakadilan sistem denda dan kompensasi. Menurutnya, PLN sangat cepat memberikan denda jika warga terlambat membayar tagihan listrik meski hanya satu hari.
Sebaliknya, ketika listrik padam berhari-hari, warga tidak mendapat kepastian ataupun kompensasi yang sepadan.
Tak berhenti di situ, keluhan warga pun meluas pada kondisi ekonomi dan kebijakan pemerintah yang dirasa kian menekan masyarakat kecil.
Ia membeberkan bagaimana usahanya yang dirintis dari nol, sambil mengasuh anak dan mengurus rumah tangga, kini justru dibayang-bayangi ketakutan akan beban pajak saat mulai berkembang.
“Kami merintis dari nol, gak tidur sambil gendong anak, sambil mencuci, sambil masak untuk bisa makan tiap hari. Tapi begitu udah agak lumayan, pajaknya ditanya-tanya dari AC, dari kulkas, semua mau dipajakin. Astagfirullahaladzim,” ungkapnya penuh emosi.
Ari berharap pemerintah dan pihak PLN tidak hanya berpihak kepada para pengusaha besar dan pejabat, tetapi juga mendengarkan jeritan rakyat kecil yang mengandalkan modal mandiri untuk bertahan hidup.
”Kami cuma warga biasa yang meminta hak kami. Tolonglah bantu kami, jangan hanya yang di atas saja yang diperhatikan. Sedangkan laporan kami yang gak punya ini gak pernah didengarkan,” tutupnya ibu rumah tangga tersebut.
Aksi yang dikawal ketat oleh pihak kepolisian ini menuntut manajemen PLN UP3 Banjarmasin untuk segera memberikan jaminan keandalan pasokan listrik serta transparansi terkait kompensasi kerugian pelanggan. (Rian/Razie)


