tilikbanua.com
Lingkungan

Masih Ada TPA Ditutup, DLH Kalsel Dorong Pemilahan Sampah dari Rumah

Banjar, tilikbanua.com – Penutupan TPA Basirih di Kota Banjarmasin menjadi pengingat keras bahwa persoalan sampah di Kalimantan Selatan tidak bisa terus diselesaikan dengan mengandalkan tempat pembuangan akhir.

Di tengah keterbatasan kapasitas sejumlah fasilitas pengelolaan sampah, Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan kini mendorong perubahan pola pengelolaan sampah dari hulu, yakni dengan membiasakan masyarakat memilah sampah sejak dari rumah.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Kalimantan Selatan, Rahmat Prapto Udoyo, menegaskan pemilahan sampah menjadi salah satu kunci untuk mengurangi beban TPA sekaligus membuka peluang pemanfaatan sampah bernilai ekonomi.

Hal tersebut disampaikannya saat menghadiri Green Action 2026 di Desa Sungai Rangas Hambuku, Kecamatan Martapura Barat, Kabupaten Banjar, Minggu (9/8/2026).

Rahmat mengatakan, kondisi pengelolaan sampah di Kalsel membutuhkan perubahan perilaku masyarakat. Sampah yang dihasilkan rumah tangga tidak semestinya seluruhnya berakhir di TPA.

“Ini sebagai salah satu sebenarnya masalah TPA, TPA yang ditutup. Itu tentunya kita berharap masyarakat dan warga Provinsi Kalimantan Selatan itu sudah memilah,” ujar Rahmat.

Penutupan TPA Basirih oleh Kementerian Lingkungan Hidup sejak 1 Februari 2025, lanjut Rahmat, menjadi salah satu gambaran nyata tekanan yang dihadapi sistem persampahan perkotaan di Kalsel.

Pemerintah Kota Banjarmasin sebelumnya bahkan menetapkan status tanggap darurat sampah setelah penutupan tersebut. Saat itu, Pemko Banjarmasin menyebut produksi sampah kota mencapai sekitar 600–650 ton per hari, sementara kemampuan pengiriman ke TPA regional sementara hanya sekitar 105 ton per hari. Sekitar 41 ton per hari di antaranya telah dikelola melalui pemilah, bank sampah dan pusat daur ulang.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ketika kapasitas pembuangan akhir terganggu, sampah yang tidak dipilah sejak sumbernya akan dengan cepat menjadi persoalan di TPS, lingkungan permukiman hingga fasilitas pengelolaan lainnya.

“Pemilihan sampah dari rumah setidaknya dapat mengurangi volume yang dibuang ke TPA,” sambungnya.

Rahmat mengakui pemilahan yang dilakukan masyarakat saat ini mungkin belum besar kontribusinya terhadap keseluruhan timbulan sampah. Namun, menurutnya, kebiasaan tersebut penting sebagai langkah awal membangun budaya baru dalam pengelolaan sampah.

“Walaupun hanya satu persen dari pemilahan, tapi ini sudah untuk sebagai kampanye dan solusi bagaimana membudayakan ini,” katanya.

Ia menginginkan masyarakat tidak dibebani dengan sistem pemilahan yang terlalu rumit. Untuk tahap awal, masyarakat cukup memisahkan sampah menjadi dua kelompok utama, yakni organik dan anorganik.

“Pemilahan hanya sederhana saja. Kita enggak usah terlalu banyak, ada sampah plastik, kaleng, kertas. Kita pisahkan organik dan anorganiknya saja dulu. Itu sudah cukup lumayan, mengurangi beban TPA nantinya,” jelasnya.

Terakhir Ia mendorong DLH kabupaten/kota di Kalsel untuk membuat kegiatan edukasi dan pemilahan secara rutin dengan melibatkan komunitas dan masyarakat.

“Ini kita berharap teman-teman DLH kabupaten kota juga membuat acara seperti ini rutin, baik dengan komunitas maupun masing-masing. Kita juga berharap kepala desa, kecamatan atau majelis silakan berbuat hal seperti ini,” pungkasnya.

Related posts

Dampak Kabut Asap Karhutla, SMPN 10 Banjarmasin Sesuaikan Jam Masuk dan Pindahkan Aktivitas ke Luar Kelas

razie albanjari

Karhutla Kalsel Marak tapi OMC Belum Jalan, BPBD: Pesawat Standby, Awan Menipis

razie albanjari

Banjarbaru Tetapkan Status Siaga Darurat Karhutla dan Kekeringan 2026

razie albanjari

Leave a Comment