tilikbanua.com
Kesehatan

Sasar 80 Sekolah, Uji Percontohan Vaksin DBD di Banjarmasin Ditarget Selesai 2026

BANJARMASIN, tilikbanua.com – Kota Banjarmasin terpilih menjadi satu dari tiga kota di Indonesia bersama Jakarta dan Palembang yang ditunjuk sebagai lokasi uji percontohan (pilot project) vaksinasi Demam Berdarah Dengue (DBD) nasional.

Program pencegahan penyakit menular berbasis riset ini memanfaatkan vaksin hibah dari perusahaan farmasi Takeda dan telah dijadwalkan menyasar ribuan siswa sekolah dasar sejak Januari 2026.

​Uji coba nasional yang kini memasuki tahap kedua tersebut menunjukkan tren pelaksanaan yang positif di lapangan.

Masyarakat Kota Seribu Sungai pun menyambut baik program percontohan ini. Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Banjarmasin, Yanuar Diansyah, menjelaskan bahwa pelaksanaan penelitian vaksinasi DBD di Banjarmasin yang menyasar sekitar 7.500 anak hingga kini masih terus bergulir sepanjang tahun 2026.

​”Ini masih tahap kedua dan berjalan dengan baik. Antusiasme masyarakat cukup tinggi. Jumlah sasarannya untuk Kota Banjarmasin sekitar 7.000 anak dan sampai saat ini prosesnya masih terus berjalan di tahun 2026,” ujar Yanuar Diansyah, Kamis (13/08/2026).

​Ia menekankan bahwa status kegiatan ini murni bersifat penelitian (pilot project) dan bukan program vaksinasi massal biasa.

Oleh karena itu, terdapat metode riset, kriteria sasaran, serta batas waktu pelaksanaan yang diolah langsung oleh tim peneliti pusat hingga akhir tahun 2026.

“Penelitian ini ditargetkan selesai tahun 2026. Nanti di akhir periode akan ada laporan penelitian resmi. Hasil penelitian ini yang nantinya akan menjadi bahan evaluasi dan masukan bagi pemerintah pusat, apakah vaksin DBD ini layak dijadikan program kebijakan nasional atau tidak,” terangnya.

​Dalam pelaksanaannya, Dinkes Banjarmasin berkolaborasi erat dengan Dinas Pendidikan (Disdik) serta Kementerian Agama (Kemenag) Kota Banjarmasin mengingat sasaran program ini melibatkan puluhan sekolah dasar dan madrasah.

​”Terakhir terdata ada hampir 80 sekolah yang terlibat, dan dimungkinkan ada penambahan sekolah baru untuk memenuhi kuota target sasaran,” kata Yanuar.

​Secara umum, proses penyuntikan di sekolah-sekolah berjalan aman tanpa hambatan berarti. Penundaan penyuntikan biasanya hanya disebabkan kendala teknis medis sederhana, seperti kondisi anak yang kurang fit atau sakit saat jadwal vaksinasi, sehingga jadwalnya digeser.

Prosedur pelaksanaan juga menerapkan standar penelitian yang ketat, meliputi skrinning melalui pemeriksaan sampel darah awal bagi calon penerima vaksin serta persetujuan tertulis (informed consent) dari orang tua.

Para orang tua peserta juga berkomitmen untuk mendampingi pemantauan kesehatan anak secara berkala bersama tim medis.

​Yanuar berharap dukungan penuh dari masyarakat dapat terus mengalir hingga akhir masa penelitian. Jika pilot project ini terbukti efektif dan aman, kehadiran vaksin DBD hibah Takeda ini berpeluang besar diangkat menjadi kebijakan program nasional untuk menekan angka kasus demam berdarah pada anak-anak secara berkelanjutan.

​”Tujuan utama vaksinasi tentu sebagai bentuk pencegahan. Selama ini kita belum memiliki program vaksin DBD nasional. Jika hasil uji penelitian ini sukses, ini akan diangkat menjadi program resmi pemerintah untuk melindungi anak-anak kita dari ancaman kasus DBD,” pungkasnya. (Rian/Razie)

Related posts

Kabut Asap Ancam IKP Kalsel, Masyarakat di Banjarbaru Diminta Pakai Masker

razie albanjari

Sungai di Banjarmasin Mulai Terintrusi Air Asin, PAM Bandarmasih Siapkan Strategi Mitigasi

razie albanjari

Hadapi Ancaman Karhutla, Pemprov Kalsel Siagakan Posko 24 Jam dan Safe House untuk Kelompok Rentan

razie albanjari

Leave a Comment