tilikbanua.com
Pendidikan

​Senyum Kesetaraan di Halaman SD Kartika V-7: Saat Kemerdekaan Berarti Ruang untuk Semua Anak​

BANJARMASIN, tilikbanua.com — Di bawah riuh sorak-sorai perlombaan, riang tawa itu pecah. Tak ada ambisi mengejar piala, tak ada pula pacuan siapa yang paling cepat menyentuh garis finis.

Bagi anak-anak berkebutuhan khusus (ABK) di SD Kartika V-7 Banjarmasin, keberanian melangkah dan bermain bersama teman-temannya sudah menjadi kemenangan paling bermakna.

Momen hangat ini tercipta dalam kemeriahan peringatan Hari Jadi ke-76 Provinsi Kalimantan Selatan sekaligus HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Kamis (13/8/2026).

​Sekitar delapan anak inklusi tampak membaur tanpa canggung. Dengan pendampingan telaten dari para guru, anak-anak yang memiliki kondisi beragam, mulai dari keterlambatan bicara, ADHD, hiperaktif, gangguan reseptif bahasa, retardasi mental ringan, hingga kesulitan fokus tetap menikmati setiap momen lomba.

​Keterbatasan fisik maupun sensorik seolah melebur. Senyum polos dan pancaran kebahagiaan mereka justru menjadi sorotan paling menyentuh di tengah riuhnya lapangan sekolah.

​Kepala SD Kartika V-7 Banjarmasin, Jasmine, menegaskan pentingnya memberikan hak yang seimbang bagi setiap murid tanpa membedakan kondisi mereka.

​”Di sekolah kita ada beberapa murid anak berkebutuhan khusus. Mereka mendapatkan hak yang sama dalam pembelajaran dan juga hak yang sama dalam kegiatan sekolah,” kata Jasmine.

​Bagi pihak sekolah, mengikutsertakan anak ABK dalam kegiatan bersama bukan sekadar formalitas perayaan, melainkan media terapi sosial yang nyata untuk memupuk rasa percaya diri.

​”Kita melatih agar anak-anak tersebut bisa dengan cepat bersosialisasi,” tegasnya.

​Namun, kehangatan yang tercipta di halaman sekolah hari itu tak lepas dari dedikasi sunyi para guru. Mayoritas pengajar di SD Kartika V-7 merupakan guru honorer.

Di tengah keterbatasan finansial, mereka memilih bertahan dan mencurahkan perhatian ekstra bagi tumbuh kembang setiap anak.

​Bahkan untuk memastikan kegiatan sekolah tetap berjalan meriah, para guru kerap mengupayakan dukungan dari pihak luar.

​”Dari pihak luar ada yang juga menyumbang. Alhamdulillah setidaknya dapat meringankan dana yang diperlukan,” tutur Jasmine.

​Menghadapi anak-anak dengan berbagai latar belakang keistimewaan tentu menuntut ketabahan yang luar biasa. Setiap siswa memiliki dinamika dan cara berkomunikasi yang berbeda.

“Sebagai guru honor, mendidik anak-anak harus memiliki kesabaran, sebab anak-anak memiliki berbagai pola pikir yang berbeda-beda, terutama anak ABK,” ungkap Jasmine penuh haru.

​Anak-anak ABK mungkin belum memahami arti “kemerdekaan” lewat pidato resmi atau istilah yang rumit. Namun, mereka merasakannya secara nyata saat diberi kesempatan yang sama untuk tertawa, berlari, dan diterima apa adanya oleh lingkungan sekitar.

Melihat anak yang dulunya tertutup kini berani tampil dan tersenyum lebar menjadi imbalan terindah bagi para guru honorer. Kesabaran mereka membuktikan bahwa pendidikan berkualitas tidak selalu lahir dari gedung megah atau fasilitas serba ada.

​Pendidikan sejati tumbuh dari ruang-ruang penuh penerimaan, ketulusan tangan yang siap mendampingi, dan kesempatan kecil yang membuat seorang anak mampu berkata: “Aku juga bisa.” (Rian/Razie)

Related posts

Pesan KH Hasanuddin di Harlah ke-112 Ponpes Darussalam Martapura

razie albanjari

Keceriaan Family Gathering Kelas 1 SDIT Ukhuwah dan SDIT Ukhuwah 2, Saat Anak dan Orang Tua Menorehkan Kenangan Bersama.

razie albanjari

Pemkot Mematangkan Sekolah Rakyat di Banjarbaru

razie albanjari

Leave a Comment