tilikbanua.com
Berita Utama

Rumah Berdampingan dengan Titik Api, Warga Tambak Buluh Banjarbaru Pilih Bertahan

BANJARBARU, tilikbanua.com – Kepulan asap pekat dan kobaran api yang melalap habis sebuah bangunan penampungan rongsokan di Jalan Tambak Buluh, Kelurahan Landasan Ulin Timur, Kota Banjarbaru, Rabu (19/8/2026) sore.

Kejadian ini sempat memicu kepanikan warga yang rumahnya hanya bersebelahan jaraknya dengan titik api kebakaran lahan.

Meski berada di garis depan ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terus berulang, sejumlah warga terdampak memilih untuk tetap bertahan di kediaman mereka dan enggan mengungsi.

Liana, seorang warga yang menyewa rumah persis di sebelah lahan yang hangus terbakar, mengaku menyaksikan langsung bagaimana api kecil di ujung lahan mendadak membesar dan menjalar cepat ke arah pemukiman akibat tiupan angin kencang.

“Awalnya apinya kecil saja di ujung sana, dikira tidak apa-apa. Sekalinya menyebar ke sini karena angin kencang,” tutur Liana saat menceritakan kejadian.

Kendati musibah kebakaran ini merupakan yang terparah selama empat tahun ia menetapkan tinggal di kawasan tersebut, Liana menegaskan belum memiliki rencana untuk meninggalkan rumahnya.

Meski ada rasa cemas dan takut, namun ia lebih memilih untuk bersiaga mandiri sambil mengantongi nomor kontak darurat pemadam kebakaran.

“Belum ada rencana mengungsi, sementara di sini saja dulu. Memang takut, tapi saya sudah simpan nomor pemadam,” ujarnya.

Diketahui Jalan Tambak Buluh hingga Komplek Griya Ulin Permai Kelurahan Landasan Ulin Timur ini dikenal sebagai daerah rawan karhutla.

Babinter Lanud Sjamsudin Noor, Serma Nanang Hadi, mengatakan bahwa dalam tiga hari terakhir, titik api terus bermunculan dan berjarak hanya sekitar 500 meter dari komplek pemukiman.

“Di sini termasuk daerah rawan. Kemarin ini sudah dari tiga hari yang lalu, terus berlanjut, dan sekarang berlanjut lagi. Dari sepanjang Tambak Buluh sampai Komplek Griya Ulin Permai menyala semua, jaraknya sekitar 500 meter lagi dari komplek,” ungkap Serma Nanang Hadi.

Ia menambahkan, keterbatasan personel serta kendala teknis di lapangan membuat proses pemadaman awal menjadi sangat membahayakan bagi warga maupun petugas.

“Karena kita cuma enam orang melakukan pemadaman, sampai terbakarnya rumah itu kita tidak bisa menguasai lagi karena angin terlalu deras dan luasan yang terbakar cukup besar. Kendalanya juga ada aliran listrik yang masih menyala, jadi kita tidak berani mendekat,” tuntasnya. (Caca/Razie)

Related posts

Respon Aduan Warga Soal Peternakan Babi, Lisa Halaby Tuntut Solusi Adil Bagi Peternak dan Masyarakat

razie albanjari

Aliansi Masyarakat Kalsel Bersatu Gelar Aksi Menuntut Solusi Pemadaman Listrik PLN, Siap Mundur Jika Tak Selesai Agustus

razie albanjari

​Musim Kemarau Panjang Hantam Pertanian Banjarmasin: Tanah Belah hingga Ancaman Tungro​

razie albanjari

Leave a Comment