MARTAPURA, tilikbanua.com – Bagi kebanyakan orang, fotografi mungkin sekadar hobi membidik objek atau mengabadikan momen.
Namun, di tangan anak-anak istimewa SLB-A Negeri 3 Martapura, kamera dan ponsel pintar menjelma menjadi perpanjangan ‘mata hati’ untuk merekam keindahan semesta yang sering kali luput dari pandangan orang normal.
Hal itu nampak saat ruang kelas di SLB-A Negeri 3 Martapura dipenuhi piuh antusiasme dan rasa ingin tahu siswa siswi dalam rangkaian kegiatan In House Training (IHT) Keterampilan Fotografi, Selasa (13/10/2026).
Bukan sekadar pelatihan biasa, acara ini adalah sebuah manifesto inklusivitasc bahwa seni fotografi milik siapapun tanpa pandang bulu, baik tua, muda, berkecukupan maupun kurang mampu, serta mampu menjangkau pelajar sekolah umum maupun Sekolah Luar Biasa.
Dewan Kesenian Daerah (DKD) Banjarbaru melalui bidang fotografi hadir memfasilitasi dan menemani anak-anak ini agar bisa menggapai impian, membuktikan bahwa batas fisik bukanlah tembok penghalang untuk berkarya.
Melalui seni fotografi, mereka didampingi untuk memproses karya dan menampilkannya ke masyarakat demi membangun masa depan yang cerah, serta membawa nama harum diri, keluarga, sekolah, dan tanah air.
Wakil Kepala SLB-A Negeri 3 Martapura, Teguh Imam Susanto, memaparkan bagaimana pelatihan ini dirancang secara strategis.
Tidak hanya murid yang dibina, para guru pun turut disiapkan agar memiliki fondasi pengetahuan dasar teknik fotografi.
“Stretching-nya pertama semua guru diharapkan memiliki pengetahuan dasar tentang teknik-teknik fotografi. Kemudian untuk murid tunadaksa atau disabilitas fisik, atau murid low vision, jadi tunanetra tapi masih ada sisa penglihatan. Jadi mereka memiliki dasar-dasar untuk dikembangkan nanti dalam kegiatan ekstrakurikuler,” ujar Teguh Imam Susanto saat diwawancarai.
Lebih jauh, Teguh mematok asa yang mulia. Tujuan jangka pendeknya adalah mempersiapkan siswa untuk mengikuti ajang Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N).
Adapun tujuan jangka panjangnya adalah memberikan keterampilan untuk menunjang kemandirian mereka di masa yang akan datang, seperti membuat produk hingga menjadi kontributor.
Mengajar anak-anak berkebutuhan khusus tentu menuntut kesabaran dan pendekatan berbeda. Arief Setiawan, fotografer profesional yang bertindak sebagai narasumber di Banjarbaru, menegaskan bahwa kunci utamanya terletak pada pemetaan minat
“Karena memang mereka adik-adik yang berkebutuhan khusus, jadi memang treatment-nya beda. Jadi kita berusaha menyesuaikan dengan minat-minat mereka dulu. Jadi kita coba gali dulu minatnya di mana, baru kita masuk. Apakah mereka suka foto, terus memotonya apa, baru kita pisah dulu. Nah, jadi kita masuk lewat minat,” jelas Arief Setiawan.
Terkait respon peserta, Arief mengaku sangat takjub. Ia menegaskan bahwa potensi tersembunyi para siswa ini sangat kuat apabila sudah menemukan bidang yang disukai.
“Untuk antusiasme mereka ini luar biasa nih. Jadi memang secara ini kan mereka beda ya, tapi secara antusiasmenya ini karena kita persiapan mau-mau moto di luar nih, praktek di lapangan, jadi mereka tertarik. Jadi kita berusaha menyesuaikan nanti sama keperluan mereka apa, minat bakatnya,” jelas dia.
Kisah sukses tersebut turut dikonfirmasi oleh pengalaman nyata di sekolah. Seperti tahun lalu pihak institusi sempat merasa kagum dan “terkejut” ketika menjaring siswa yang berminat untuk mengikuti lomba FLS2N, di mana siswa tersebut baru mengenal fotografi dan langsung mendapat advice dari para ahli, hingga akhirnya berhasil menyabet Juara 3.
Dari sanalah pihak sekolah menyadari adanya peluang besar untuk menggali potensi-potensi anak lainnya.
Hal tersebut tercermin dari binar mata Halidah, siswi kelas 8 yang mengungkapkan kecintaannya pada dunia bidik-membidik yang baru digelutinya sejak masuk ke sekolah tersebut. Dengan kamera maupun ponsel pintar di genggamannya, Halidah terbiasa membidik panorama dan sudut-sudut estetik. (Caca/Razie)


