TILIK BANUA — Ada satu nama dari Kalimantan Selatan yang kembali relevan ketika Pondok Modern Darussalam Gontor memasuki usia satu abad.
Nama itu adalah KH Dr. Idham Chalid. Di tengah peringatan 100 tahun Gontor di Ponorogo, Jawa Timur, Sabtu (19/9/2026), perhatian publik tertuju pada pidato Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, KH Hasan Abdullah Sahal.
Dalam pidatonya di hadapan Presiden Prabowo Subianto dan keluarga besar Gontor, Kiai Hasan menegaskan pilihan Gontor untuk terus membangun bangsa melalui pendidikan.
“Kami tetap memilih pendidikan, Bapak Presiden,” ujar Kiai Hasan dalam pidatonya.
Beliau juga menyampaikan bahwa sejarah bagi Gontor bukan sekadar sesuatu yang dikenang atau dipelajari. Sejarah harus menjadi pijakan untuk membangun sejarah dan peradaban baru.
Pesan tersebut terasa menarik jika ditarik ke belakang, kepada perjalanan salah satu alumni Gontor yang berasal dari Kalimantan Selatan: KH Idham Chalid.
Sebab, jauh sebelum Gontor mencapai usia 100 tahun, seorang pemuda dari tanah Banua pernah datang ke pesantren tersebut untuk menuntut ilmu.
Dari sanalah salah satu episode penting perjalanan hidup Idham Chalid dimulai.
Idham Chalid lahir di Satui, Kalimantan Selatan, pada 27 Agustus 1922 menurut sejumlah sumber sejarah. Ayahnya, H. Muhammad Chalid, berasal dari Amuntai dan dikenal sebagai penghulu. Ketika Idham masih kecil, keluarganya kemudian pindah ke Amuntai, Hulu Sungai Utara.
Di Amuntai, Idham mendapatkan pendidikan agama dan pendidikan umum.
Ia kemudian belajar di Madrasah Ar-Rasyidiyyah. Di sana ia tidak hanya mempelajari ilmu keislaman, tetapi juga mendapatkan pelajaran bahasa Arab, bahasa Inggris dan pengetahuan umum.
Hingga kemudian, pada 1938, jalan pendidikannya membawanya jauh dari Kalimantan Selatan. Tujuannya: Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, Jawa Timur.
Menurut kajian sejarah yang dihimpun UIN Antasari, informasi mengenai pola pendidikan Gontor sampai kepada keluarga Idham melalui salah seorang alumni Gontor asal Kalua, H. Arsyad. Sistem pendidikan Gontor ketika itu menarik perhatian karena memadukan pendidikan agama dengan pengetahuan umum, bahasa Arab dan Inggris, kedisiplinan serta latihan pidato.
Pada akhir 1938, Idham berangkat ke Jawa bersama sejumlah teman dari Kalimantan Selatan. Perjalanan itu bukan perjalanan biasa bagi seorang pemuda Banua pada zamannya.
Dari Amuntai mereka menuju Banjarmasin menggunakan perahu kecil. Setelah itu perjalanan dilanjutkan menuju Jawa menggunakan kapal laut sebelum akhirnya sampai di Gontor. Di Gontor, Idham menjalani pendidikan selama sekitar lima tahun.
Ia menempuh tiga tahun di Kulliyatul Mu’allimin al-Islamiyyah dan dua tahun di tingkat Kweekschool Islam Bovenbouw. Sumber NU mencatat, masa pendidikan tersebut lebih singkat dibandingkan masa yang lazim ditempuh santri lain pada tingkat tersebut.
Namun hubungan Idham dengan Gontor tidak berhenti ketika masa belajarnya selesai. Ia kemudian kembali ke Gontor dan mengajar. Bahkan, ia pernah dipercaya menjadi wakil direktur di almamaternya tersebut.
Ilmu dari Gontor Dibawa Pulang ke Banua
Setelah dari Gontor, Idham kembali ke tanah kelahirannya.
Di Amuntai, pengalaman yang diperolehnya selama belajar di Gontor kemudian ikut mewarnai kiprahnya dalam pendidikan dan organisasi. Ia terlibat dalam pengembangan pendidikan Islam dan membangun jaringan perguruan Islam yang dikenal dengan nama Ittihad al-Ma’ahid al-Islamiyyah (IMI).
Jaringan tersebut mempertemukan sejumlah perguruan Islam di Kalimantan Selatan dengan tujuan membangun kerja sama dan memajukan pendidikan Islam. Dengan kata lain, pendidikan yang ia dapatkan di Gontor tidak berhenti sebagai pengalaman pribadi. Ilmu itu dibawa pulang ke Banua.
Dan dari Banua, kiprahnya kemudian berkembang ke tingkat nasional. Dari Santri Gontor Menjadi Tokoh Nasional
Perjalanan Idham Chalid selanjutnya membawa dirinya memasuki dunia organisasi, perjuangan kebangsaan, Nahdlatul Ulama dan politik nasional.
Ia kemudian menjadi salah satu tokoh penting NU dan pernah dipercaya memimpin PBNU. Dalam perjalanan kenegaraan Indonesia, namanya juga tercatat sebagai Ketua MPRS pertama. Kiprah alumni Gontor tersebut kembali disoroti Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid dalam rangkaian kegiatan menyambut 100 tahun Gontor.
Pada September 2026, ketika Gontor memasuki usia 100 tahun, nama Idham Chalid kembali disebut bukan sekadar sebagai alumni.
Ia menjadi bagian dari cerita panjang tentang bagaimana pendidikan pesantren kemudian melahirkan tokoh yang berkiprah di berbagai bidang kehidupan bangsa.
Bahkan dalam rangkaian acara menyambut satu abad Gontor, Hidayat Nur Wahid secara khusus menyebut KH Idham Chalid sebagai Ketua MPRS pertama yang merupakan alumni Gontor.
Perjalanan tersebut seolah menjadi gambaran nyata dari pesan Kiai Hasan dalam peringatan satu abad Gontor: pendidikan bukan hanya tentang mewarisi sejarah, tetapi juga tentang mempersiapkan generasi untuk membangun sejarah berikutnya.


