BANJABARU, tilikbanua.com – Di tengah rasa waswas yang menyelimutidi tengah ancaman kabut asap akibat Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla), para orang tua siswa di Kota Banjarbaru tetap mengantar buah hati mereka ke sekolah, Kamis (3/9/2026).
Pemandangan ini terlihat di sejumlah Sekolah Dasar (SD) di Kota Banjarbaru yang mulai menerapkan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) Penyesuaian guna melindungi siswa dari ancaman kabut asap akibat karhutla.
Ratu, salah satu orang tua siswa asal mengaku tetap mengantar anaknya ke sekolah selama kabut asap mulai menipis di pagi hari. Namun, ia menegaskan tidak akan mengizinkan anaknya berangkat jika kondisi udara memburuk.
“PTM ini bagus saja kalau tidak kabut. Tapi kalau banyak asap, biasanya anak tidak saya perbolehkan turun sekolah dulu, biar di rumah. Kalau tidak kabut seperti ini baru diantar,” ujar Ratu usai mengantar anaknya ke sekolah.
Kekhawatiran Ratu berdasar pada kondisi kesehatan anaknya yang baru saja pulih dari sakit batuk, pilek, hingga sempat mengalami sesak napas.
Meski sebelumnya sempat menginginkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) penuh saat mengisi formulir survei sekolah, ia kini mendukung PTM Penyesuaian dengan catatan protokol kesehatan diperketat.
“Yang penting dia pakai masker dari rumah. Nanti kalau asapnya sudah tidak ada di kelas, baru boleh dilepas. Lagipula dia masih batuk pilek, takutnya menulari teman-temannya,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala SDN 1 Loktabat Utara, Muhammad Muhransyah, menjelaskan bahwa skema PTM Penyesuaian ini diterapkan dengan menggeser waktu mulai Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) menjadi pukul 09.00 WITA untuk meminimalisasi risiko gangguan kesehatan akibat kabut asap pagi.
“Hari ini kami resmi memulai Pembelajaran Tatap Muka dengan penyesuaian jam masuk. Yang paling kami tekankan ke seluruh orang tua, siswa, dan pegawai adalah tetap memberlakukan protokol kesehatan secara ketat. Semua murid dan guru kita minta wajib memakai masker sejak dari rumah,” tegas Muhransyah, Kamis (3/9/2026).
Ia menambahkan bahwa kebijakan penyesuaian jam belajar ini mengacu pada regulasi pemerintah serta kondisi riil kualitas udara di wilayah tempat sekolah berdiri.
“Pertimbangannya kami tetap berpedoman pada Surat Edaran dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah dan diperkuat oleh kebijakan Pemerintah Kota Banjarbaru bahwa kualitas udara menjadi faktor prioritas pertimbangan pelaksanaan pembelajaran. Di lingkup wilayah kita, kualitas udaranya relatif lebih baik dibanding wilayah lain yang terdampak kabut asap lebih pekat,” jelasnya.
Untuk menyiasati pergeseran jam masuk tanpa memundurkan waktu pulang, durasi satu jam pelajaran dipangkas dari semula 35 menit menjadi 30 menit.
Pihak sekolah juga membatasi aktivitas fisik serta kegiatan ekstrakurikuler (ekskul) selama masa penyesuaian ini.
Diketahui kebijakan PTM Penyesuaian ini disepakati oleh hampir 80 persen orang tua murid melalui survei internal sekolah dan diajukan bersama Komite Sekolah ke Dinas Pendidikan Kota Banjarbaru. Pihak sekolah pun memastikan akan terus melakukan evaluasi berkala mengikuti perkembangan kualitas udara di Banjarbaru. (Caca/Razie)


