BANJARMASIN, tilikbanua.com — Di balik pencapaian seorang profesor, selalu ada perjalanan panjang yang tidak hanya dibentuk oleh pendidikan, penelitian, dan kerja keras, tetapi juga oleh nilai-nilai kehidupan yang ditanamkan sejak kecil.
Bagi Prof. Dr. Riinawati, M.Pd., salah satu sumber inspirasi terbesar dalam perjalanan tersebut adalah sosok ayah.
Ayah yang mengajarkannya tentang kesederhanaan. Ayah yang mengajarkannya untuk peduli kepada orang lain. Dan yang paling membekas, ayah yang mengajarkannya bahwa ketika memiliki sesuatu, hendaknya selalu ingat bahwa ada orang lain yang mungkin membutuhkan.
Nilai-nilai sederhana itu kemudian tumbuh menjadi bagian dari karakter Riinawati dan terus ia bawa hingga memasuki dunia akademik.
Kini, perempuan kelahiran Rantau, Kabupaten Tapin, 3 Mei 1986, tersebut telah mencapai salah satu puncak dalam perjalanan akademiknya. Terhitung mulai 1 Oktober 2026, Riinawati resmi menyandang jabatan akademik profesor berdasarkan SK Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Nomor 22843/M/KPT.KP/2026 tertanggal 7 September 2026.
Ia merupakan Guru Besar bidang Ilmu Manajemen Keuangan Pendidikan pada Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari Banjarmasin.
Namun, di balik gelar profesor tersebut, ada kisah seorang anak yang tidak pernah melupakan dari mana ia berasal dan siapa yang pertama kali mengajarinya tentang arti kehidupan.
Dari Keluarga Sederhana
Riinawati merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Ia lahir dan tumbuh dalam keluarga sederhana. Kedua orang tuanya tidak pernah mengenyam pendidikan formal di bangku sekolah.
Kondisi tersebut tidak menjadi penghalang bagi Riinawati untuk menempuh pendidikan setinggi mungkin.
Justru dari keluarga itulah ia belajar bahwa pendidikan merupakan sesuatu yang sangat berharga. Perjalanan akademiknya kemudian dimulai dari Universitas Widyagama Samarinda sebagai mahasiswa S1 angkatan 2005.
Pendidikan selanjutnya ia tempuh di Universitas Mulawarman Samarinda pada jenjang S2 pada 2009. Pada 2013, ia melanjutkan pendidikan doktoral di Universitas Negeri Surabaya.
Jalan panjang tersebut tidak selalu mudah. Namun, satu hal yang terus dibawanya adalah nilai-nilai yang ditanamkan orang tua, terutama keteladanan sang ayah.
Ayah, Guru Kehidupan Pertama
Bagi Riinawati, ayah bukan hanya orang tua. Ia adalah guru kehidupan pertama yang memberikan pelajaran tanpa banyak teori.
“Ayah saya senang berbagi dan beliau panutan saya,” ujar Riinawati.
Dari ayahnya, ia belajar bahwa kebaikan tidak harus selalu terlihat. Membantu orang lain tidak harus menunggu memiliki banyak. Kepedulian pun tidak harus disampaikan dengan kata-kata besar.
Apa yang dilakukan sang ayah sejak dahulu menjadi contoh yang ia lihat dan rasakan sendiri.
Karena itu, ketika dewasa dan memiliki kesempatan untuk membantu orang lain, Riinawati berusaha mempertahankan nilai tersebut dengan caranya sendiri.
Ia tidak melihat perbedaan status sebagai batas dalam berinteraksi. Petugas kebersihan, marbot masjid, rekan kerja maupun masyarakat dari berbagai latar belakang tetap ia perlakukan sebagai bagian dari lingkungan yang layak dihargai dan disapa.
Baginya, kedekatan dengan masyarakat tidak berkurang hanya karena seseorang memiliki jabatan akademik.
Dari Nilai Keluarga Menjadi Semangat Akademik
Perjalanan Riinawati kemudian membawanya ke dunia pendidikan tinggi.
Pada 2019, ia diangkat sebagai aparatur sipil negara di UIN Antasari Banjarmasin. Di kampus tersebut, ia mengajar mahasiswa sarjana dan pascasarjana.
Riinawati merupakan pengajar pada Program Studi Magister Manajemen Pendidikan Islam (MPI) UIN Antasari Banjarmasin. Ia juga pernah mengajar di sejumlah perguruan tinggi lain, di antaranya Universitas Islam Kalimantan (Uniska) Muhammad Arsyad Al Banjari, Universitas Achmad Yani Banjarmasin, serta Institut Bisnis dan Teknologi Kalimantan (IBITEK) Banjarmasin.
Bidang yang kemudian menjadi bagian penting dalam perjalanan akademiknya adalah manajemen keuangan pendidikan.
Baginya, ilmu tidak berhenti pada ruang kelas atau tulisan ilmiah. Ilmu memiliki nilai ketika dapat diterapkan dan memberikan manfaat bagi kehidupan.
Pandangan itu pula yang membuat pencapaian sebagai profesor tidak ia lihat sebagai akhir perjalanan.
Menjadi Profesor, Bukan Berarti Berhenti Belajar
Meraih jabatan profesor tentu menjadi kebanggaan tersendiri. Namun, bagi Riinawati, gelar tersebut justru membawa amanah dan tanggung jawab yang lebih besar.
“Perasaannya pasti bangga. Namun tanggung jawab semakin bertambah dan semakin besar. Saya juga semakin bersemangat untuk menularkan ilmu kepada peserta didik,” tuturnya.
Baginya, profesor bukan sekadar gelar akademik. Ada tanggung jawab keilmuan yang harus dijaga, dikembangkan, dan diteruskan kepada generasi berikutnya.
Semangat untuk terus belajar dan mengembangkan ilmu berjalan beriringan dengan nilai kehidupan yang sejak kecil ditanamkan ayahnya: menjadi seseorang yang dapat memberikan manfaat.
Jika dahulu sang ayah mengajarkannya melalui kehidupan sehari-hari, kini Riinawati berusaha meneruskannya melalui pendidikan, pengabdian, dan interaksi dengan masyarakat.
Ketika Keberhasilan Tidak Hanya Diukur dari Gelar
Bagi Riinawati, keberhasilan tidak semata-mata diukur dari seberapa tinggi gelar yang berhasil diraih.
Gelar profesor memang tercatat dalam surat keputusan negara. Namun, ada ukuran lain yang menurutnya tidak kalah penting: sejauh mana ilmu, kesempatan, dan rezeki yang dimiliki dapat memberikan manfaat bagi sesama.
Tidak harus dalam bentuk sesuatu yang besar. Kadang cukup dengan menyapa, mendengarkan, membantu ketika mampu, atau memberikan perhatian kepada orang yang ditemui.
Hal-hal sederhana tersebut justru mengingatkannya pada sosok ayah yang sejak kecil menjadi teladannya.
Musala untuk Ayah, TPA untuk Ibu
Di tengah pencapaian akademiknya, Riinawati menyimpan sebuah cita-cita yang sangat personal.
Ia ingin membangun sebuah musala untuk sang ayah dan TPA untuk sang ibu.
Keinginan tersebut bukan sekadar tentang mendirikan bangunan. Ada rasa cinta, syukur, dan penghormatan kepada kedua orang tua yang ingin ia wujudkan melalui cita-cita tersebut.
Khusus bagi sang ayah, musala itu kelak menjadi simbol dari nilai yang diwariskannya kepada Riinawati.
Nilai tentang kepedulian, nilai tentang ketulusan dan nilai tentang bagaimana sesuatu yang dimiliki dapat memberi manfaat bagi orang lain.
Ia juga memiliki keinginan untuk memiliki rumah makan gratis yang dapat menyediakan makanan bagi orang-orang yang membutuhkan.
Cita-cita tersebut terasa sederhana jika dibandingkan dengan pencapaian akademik yang telah diraihnya. Namun justru di situlah letak maknanya.
Riinawati tidak ingin pencapaian akademik berhenti pada dirinya. Ia ingin ada sesuatu yang dapat terus memberi manfaat, bahkan ketika dirinya kelak tidak lagi berada di ruang kelas.
Meneruskan Apa yang Diajarkan Ayah
Kini, Riinawati telah berada di salah satu titik tertinggi dalam perjalanan akademiknya.
Dari keluarga sederhana, dari orang tua yang tidak pernah merasakan bangku pendidikan formal, ia menempuh pendidikan hingga doktoral dan akhirnya meraih jabatan akademik profesor.
Namun, perjalanan tersebut tidak membuatnya lupa pada nilai-nilai yang membentuk dirinya.
Justru semakin tinggi capaian yang diraih, semakin ia menyadari bahwa ada banyak hal yang tidak pernah diajarkan di ruang kuliah, tetapi justru menjadi bekal paling penting dalam kehidupan.
Salah satunya ia dapatkan dari sang ayah. Ayah yang mengajarkannya bahwa menjadi manusia bukan hanya tentang mencapai sesuatu untuk diri sendiri, tetapi juga tentang bagaimana keberadaan kita dapat memberi arti bagi orang lain.
“Ayah adalah inspirasiku.”
Kalimat itu mungkin sederhana. Tetapi bagi Riinawati, di dalamnya terdapat perjalanan hidup yang panjang.
Ada orang tua yang tidak pernah duduk di bangku sekolah, tetapi berhasil menanamkan nilai kehidupan yang kemudian menjadi bekal anaknya menempuh pendidikan hingga menjadi profesor.
Dan ada seorang ayah yang mungkin tidak pernah membayangkan bahwa nilai sederhana yang ia tanamkan akan terus dibawa anaknya hingga sejauh ini.


