tilikbanua.com
Berita Utama

Kabut Asap Kiriman dan Air Asin Hantu Warga Banjarmasin, ISPA dan Diare Mulai Mengintai

​BANJARMASIN, tilikbanua.com — Dinas Kesehatan Kota Banjarmasin mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan diare selama musim kemarau.

Kendati tren kasus ISPA menunjukkan penurunan pada pertengahan tahun ini, kondisi cuaca dan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tetap menjadi ancaman kesehatan yang perlu diantisipasi.

​Berdasarkan data pemantauan Dinas Kesehatan Kota Banjarmasin, jumlah kasus balita terinfeksi ISPA pada bulan Juli tercatat sebanyak 1.300 kasus, mengalami penurunan dibanding bulan Juni yang mencapai 1.484 kasus.

Pada pemantauan mingguan (minggu ke-31), kasus ISPA tahun 2026 berada di angka 604 kasus, lebih rendah jika dibandingkan periode yang sama pada tahun 2025 yang mencapai 844 kasus.

Secara akumulatif dari Januari hingga Juli 2026, kasus ISPA di Kota Banjarmasin terbanyak didominasi oleh kelompok usia dewasa (2.693 kasus pada bulan Juli) serta balita (1.300 kasus pada bulan Juli).

​Kepala Dinas Kesehatan Kota Banjarmasin, Yanuar Diansyah, menjelaskan bahwa pergerakan kabut asap sangat dipengaruhi oleh arah angin dari wilayah tetangga.

​”Kota Banjarmasin untuk bulan ini masih jadi landasan yang begitu signifikan karena kabut asapnya. Kiriman dari kabupaten tetangga, seperti Marabahan, Barito Kuala. Kalau cuaca anginnya tidak mengarah ke kota kita, biasanya aman-aman saja dan titiknya tidak terlalu banyak,” ujar Yanuar Rabu (12/08/2026).

​Ia menambahkan bahwa aktivitas luar ruangan di musim kemarau menjadi pemicu utama tingginya kasus ISPA pada usia dewasa.

“Kemarau menyebabkan adanya kebakaran hutan dan lahan, asap itu yang membuat kasus lebih tinggi pada masyarakat yang beraktivitas di luar rumah. Makanya pada kasus orang dewasa itu banyak terjadi. Kebanyakan paparan kabut asap terasa pada pagi hari karena faktor kelembapan,” jelasnya.

​Selain ISPA, Dinas Kesehatan juga menaruh perhatian pada penyakit diare. Kasus diare tercatat mengalami peningkatan dari 827 kasus pada bulan Juni menjadi 945 kasus pada bulan Juli 2026. Kelompok anak-anak dan pelajar menjadi yang paling rentan terhadap penyakit ini.

​”Diare itu terkait dengan kualitas air bersih kita. Musim kemarau mempengaruhi kualitas baku mutu air, ada peningkatan kadar garam dan pemicu lainnya. Ini berpengaruh pada anak-anak yang suka jajan sembarangan dan terpapar debu,” tutur Yanuar.

​Guna mengantisipasi lonjakan kasus lebih lanjut, Dinas Kesehatan Kota Banjarmasin telah menerbitkan Surat Kewaspadaan Dini penyakit ISPA dan diare kepada seluruh puskesmas di wilayah Banjarmasin agar bersiap siaga memberikan pelayanan medis secara cepat kepada masyarakat.

Masyarakat diimbau untuk tidak lengah dan menerapkan langkah-langkah pencegahan mandiri: Mengurangi aktivitas di luar rumah, terutama saat kabut asap tebal. Memakai masker saat beraktivitas di luar ruangan. Mengonsumsi makanan bergizi dan mengonsumsi air bersih/matang. Menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) serta rutin mencuci tangan. (Rian/Razie)

Related posts

Rumah Dinas Baru di Jenderal Sudirman Siap Ditempati Wakil Wali Kota Banjarmasin

razie albanjari

Karhutla Mulai Mengancam Banjarbaru, 25 Hektare Lahan Terbakar

razie albanjari

Sampaikan Keluhan Pemadaman Bergilir ke PLN Pusat, Pemko Banjarmasin Perjuangkan Kompensasi untuk Warga

razie albanjari

Leave a Comment