BANJARBARU, tilikbanua.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat Kota Banjarbaru dan sekitarnya untuk mewaspadai lonjakan polusi udara akibat kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Warga diminta kembali memperketat penggunaan masker serta membatasi aktivitas di luar ruangan, terutama pada waktu-waktu rawan di pagi hari.
Forecaster Iklim BMKG Stasiun Klimatologi Kelas I Kalsel, Imam Ali Taba Marino, menjelaskan bahwa konsentrasi partikel berbahaya PM 2.5 mencatatkan angka tertinggi pada rentang pukul 05.00 hingga 08.00 WITA.
Hal ini terjadi karena asap karhutla cenderung mengendap di dekat permukaan tanah saat suhu udara masih dingin.
“Imbauannya kepada masyarakat agar selalu siap menggunakan masker atau mengurangi kegiatan di luar ruangan untuk di pagi hari, dini hari, dan malam harinya karena asapnya masih padat mengendap di permukaan,” ujar Imam saat diwawancarai Selasa (18/8/2026).
Pemantauan stasiun ini mencatat kualitas udara di Banjarbaru memburuk secara konsisten dalam tiga hari terakhir. Seperti pada tanggal 15 Agustus 2026, kualitas udara secara umum berada pada Kategori Sedang dengan konsentrasi rata-rata sebesar 37.0 µgram/m³.
Namun, konsentrasi tertinggi melonjak hingga 128.40 µgram/m³ pada pukul 08.00 WITA dengan Kategori Tidak Sehat.
Kondisi serupa berlanjut pada 16 Agustus 2026, di mana kualitas udara harian secara umum masih berada pada katagori sedang dengan rata-rata 31.6 µgram/m³. Angka tertinggi kembali tercatat pada pukul 08.00 WITA sebesar 117.50 µgram/m³ yang berada pada katagori sangat tidak sehat.
Peningkatan pencemaran kian memburuk pada 17 Agustus 2026. Di mana is rata-rata harian naik ke angka 52.3 µgram/m³ dengan katagori sedang. Sementara konsentrasi tertinggi melonjak drastis hingga menyentuh 232.90 µgram/m³ pada pukul 07.00 Wita dengan katagori sangat tidak sehat.
“Pada Selasa (18/8/2026) hari ini pukul 08.00 WITA, konsentrasi polutannya melonjak mencapai level sangat tidak sehat dan berbahaya, berada di rentang 150 µgram/m³ sampai 250 µgram/m³,” jelasnya.
Selain imbauan perlindungan pernapasan, Imam juga mengingatkan masyarakat dan seluruh pihak terkait untuk bersama-sama mencegah potensi kebakaran hutan dan lahan yang dapat memperparah kondisi cuaca dan kualitas udara.
“Melihat kondisi cuaca sekarang mungkin akan terasa lebih panas dan diwaspadai untuk kebakaran hutan yang semakin meluas,” tegas Imam.
Ancaman kabut asap ini diprediksi masih dapat berlangsung lama mengingat puncak musim kemarau untuk wilayah Kota Banjarbaru dan sekitarnya diperkirakan baru terjadi pada September mendatang dan berlanjut hingga Oktober atau November 2026.
“Untuk kota Banjarbaru dan Banjarmasin ini sesuai perkiraan kami itu di bulan September puncaknya kemarau, dan kemarau di kalsel diperkirakan masih lanjutan untuk sampai di bulan Oktober- November,” tutup Imam. (Caca/Razie)


