BANJARMASIN, tilikbanua.com — Rencana kepulangan Alamsyah bersama 20 anggota keluarganya usai menghadiri peringatan Haul Guru Bakrie di Gambut berubah menjadi kepanikan pada Minggu (30/08/2026).
Setibanya di kawasan Kelurahan Mantuil, Kecamatan Banjarmasin Selatan, ia justru disambut pemandangan mengagetkan.
Jembatan Saka Harang, satu-satunya urat nadi darat menuju kediamannya di Pulau Bromo, telah patah dan runtuh ke sungai.
Rasa kaget dan bingung seketika menyelimuti rombongan keluarga besar tersebut. Akses jalan darat yang biasa mereka lalui saban hari mendadak terputus total.
”Tadi pulang dari Haul Guru Bakrie di Gambut, pas tahu jembatan runtuh bingung pulang pakai apa. Ini rombongan ada 20 orang sekeluarga mau balik ke Pulau Bromo,” ujarnya dibincangi media ini.
“Kami benar-benar baru tahu kalau jembatannya sudah runtuh,” tutur Alamsyah lagi.
Tanpa ada pilihan lain, Alamsyah dan puluhan warga Mantuil yang tertahan di tepi sungai terpaksa menggantungkan nasib perjalanan mereka pada jasa perahu kelotok atau getek.
Selain menyita waktu, kondisi darurat ini menuntut warga merogoh kocek lebih dalam untuk membayar ongkos sewa penyeberangan air.
”Karena jembatan runtuh ini akses terputus, jadinya terpaksa pakai kelotok atau getek. Sementara ini ya harus bayar-bayar ongkos begini,” keluhnya.
Keberadaan Jembatan Saka Harang bukan sekadar struktur beton dan kayu, melainkan tumpuan hidup dan aktivitas harian ribuan warga setempat.
Lenyapnya penyeberangan darat ini secara mendadak langsung melumpuhkan ritme kehidupan masyarakat Mantuil dan sekitarnya.
Sembari menatap sisa-sisa reruntuhan jembatan, Alamsyah menaruh harapan besar agar pemerintah daerah segera menghadirkan solusi konkret dan tidak membiarkan warga berlarut-larut dalam ketidakpastian.
”Harapan kami cuma satu, semoga bisa cepat diperbaiki karena ini benar-benar akses satu-satunya bagi kami,” pungkasnya penuh harap. (Rian/Razie)


