tilikbanua.com
Kesehatan

Asap Karhutla Jadi Pemicu Utama, Kasus ISPA di Banjarbaru Melonjak Tembus 1.000 Kasus

BANJARBARU, tilikbanua.com – Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kota Banjarbaru mengalami peningkatan signifikan dalam beberapa pekan terakhir.

Lonjakan ini terjadi seiring maraknya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang memicu kabut asap di wilayah tersebut sejak memasuki bulan Juli.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Banjarbaru mencatat, pada minggu ke-30, jumlah kasus ISPA telah menembus angka lebih dari 1.000 kasus. Angka ini melonjak tajam dibandingkan pekan-pekan sebelumnya.

“Minggu sebelumnya masih di angka 870 kasus, dan minggu sebelumnya lagi 700 kasus. Kasus karhutla ini tidak bisa dipungkiri meningkatkan angka kejadian ISPA di Banjarbaru secara signifikan. Sebelum bulan Juli tidak ada peningkatan setinggi ini,” ujar Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Banjarbaru dr. Siti Ningsih, Selasa (11/8/2026).

Menurut dr. Siti, kelompok yang paling rentan terpapar dampak asap ini adalah anak-anak dan lansia.

Adapun gejala awal umumnya dimulai dari batuk dan pilek. Jika kondisi memburuk atau daya tahan tubuh lemah, gejala dapat berkembang menjadi sakit tenggorokan hingga demam.

“Pencegahannya yang paling utama itu adalah jika beraktivitas di luar rumah memakai masker dan juga jika terpaksa di luar rumah terus menjaga daya tahan tubuh,” tegas dia.

Ia pun menekankan agar masyarakat dapat mengurangi aktivitas di luar rumah, jika tidak mendesak, terutama saat kabut asap tebal.

Sedangkan mengenI pembagian masker gratis, pihak Dinkes mengakui stok yang tersedia saat ini cukup terbatas. Untuk mengantisipasi kelangkaan dan tumpang tindih pembagian, Dinkes telah berkoordinasi dengan Instalasi Farmasi Provinsi, UPT Krisis Kesehatan, serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).

“Ketersediaan masker di Dinkes terbatas, jadi kami berkoordinasi dengan BPBD dan Puskesmas untuk mencocokkan data wilayah pembagian agar bantuan bisa merata ke seluruh masyarakat,” tambah dr. Siti.

Dampak kabut asap akibat kemarau panjang ini dirasakan langsung oleh warga, terutama mereka yang bekerja di luar ruangan setiap hari.

Arbain, seorang tukang ojek warga Kampung Karangan, Kelurahan Landasan Ulin Timur, mengaku kerap mengalami gangguan pernapasan dan rasa sesak di dada saat beraktivitas di pagi hari.

“Setiap pagi ngojek di pasar, kabut asap terasa sekali sampai kadang masuk ke pernapasan. Mesti ada keluhan dada terasa sakit dan napas kurang lega. Makanya sekarang harus pakai masker terus,” ungkap Arbain

Ia pun mengaku sudah lebih dari dua tahun belakangan rutin berobat untuk keluhan kesehatannya.

Dirinya berharap penanganan karhutla dapat makin digencarkan agar polusi asap tidak terus membahayakan kesehatan masyarakat Kota Banjarbaru. (Caca/Razie)

Related posts

Tiga Karhutla di Banjarbaru dalam Sehari, BPBD Kalsel Bergerak Cepat Jinakkan Seluruh Titik Api

razie albanjari

Sungai di Banjarmasin Mulai Terintrusi Air Asin, PAM Bandarmasih Siapkan Strategi Mitigasi

razie albanjari

Belasan Tandon Disalurkan untuk Antisipasi Krisis Air Bersih di Banjarbaru

razie albanjari

Leave a Comment