BANJARBARU, tilikbanua – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) nyaris melalap pemukiman warga di RT 02 Kelurahan Landasan Ulin Selatan.
Ketua RT setempat, Hendra, menggambarkan situasi mencekam saat kobaran api mendadak membesar dan mendekati deretan rumah warga akibat tiupan angin kencang.
Hendra menuturkan, pergerakan api berlangsung sangat cepat dan di luar dugaan. Kobaran si jago merah bahkan sempat menyambar tiang-tiang bangunan di sekitar pemukiman.
“Untuk hari ini apinya lumayan besar dan mendadak, karena anginnya cukup kencang. Api ada mendekati rumah, bahkan sempat terkena tiang-tiangnya,” ujar Hendra saat ditemui di lokasi kejadian.
Upaya penyelamatan pemukiman berjalan sangat berat. Hendra mengaku ia bersama warga dan tim gabungan sempat mengalami kendala minimnya pasokan air untuk memadamkan kobaran api yang kian meluas.
Proses pemadaman memakan waktu hingga berjam-jam demi memastikan benteng pemukiman warga benar-benar aman dari rambatan api.
Bantuan dari sejumlah unsur relawan yang berdatangan sangat membantu menahan laju kebakaran.
“Penanganan tadi kita sempat kewalahan dengan debit air. Tapi ada beberapa relawan yang datang membantu di lapangan. Penanganan kurang lebih berjam-jam agar wilayah pemukiman warga tetap aman,” tambahnya.
Di tengah perjuangan memadamkan api, sebuah insiden menimpa salah satu anggota tim penanggulangan di lapangan.
Fahriza, relawan dari Pangayuan Rescue, menderita luka bakar akibat terkena semburan api mendadak saat berupaya mengevakuasi armada operasional Tosa miliknya.
Ia menceritakan detik-detik mencekam saat angin kencang secara tiba-tiba mengarahkan kobaran api tepat ke posisinya.
“Awalnya saya menaruh Tosa merasa jauh daripada api. Sekalinya angin membawa api ke arah jalan, ternyata apinya sudah di samping Tosa. Pas saya mau mengevakuasi Tosa, langsung kena apinya di bagian kepala dan tangan,” ungkap Fahriza.
Meskipun armada Tosa berhasil diselamatkan, Fahriza mengalami luka di beberapa titik dan langsung dievakuasi rekan-rekannya ke rumah sakit terdekat.
Musibah ini tak sedikit pun meluruhkan semangat kemanusiaan Fahriza. Ia menegaskan tidak jera untuk kembali turun ke lapangan membantu aksi pemadaman karhutla.
Meski begitu kejadian ini menjadi pelajaran berharga baginya dan seluruh relawan untuk senantiasa melengkapi Alat Pelindung Diri (APD) standar sebelum berjibaku dengan api.
“Tetap masih akan di lapangan, cuma menjadi pembelajaran aja dari kejadian ini,” tutupnya. (Caca/Razie)


