tilikbanua.com
Berita UtamaKabupaten/KotaKesehatanLingkungan

Kabut Karhutla Mengintai, Kasus Ispa di Banjarbaru Merangkak

BANJARBARU, tilikbanua.com – Meningkatnya karhutla di Kalsel berdampak pada kabut asap hingga membuat kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Banjarbaru naik.

Dinas Kesehatan Banjarbaru mencatat, grafik mingguan penderita gangguan pernapasan terus merangkak naik sejak memasuki pertengahan Juni.

Meski tidak ada lonjakan masif, namun kecenderungan tren kasus ISPA di Banjarbaru naik dalam beberapa pekan terakhir.

Data surveilans menunjukkan, pada minggu ke-23 tercatat ada 588 kasus. Angka tersebut terus naik menjadi 609 kasus pada minggu ke-24, lalu melonjak ke angka 718 kasus pada minggu ke-25, dan bertahan di angka 710 kasus pada minggu ke-26.

“Secara akumulatif, sepanjang semester pertama tahun ini, total kunjungan pasien akibat gangguan pernapasan di seluruh fasilitas kesehatan Banjarbaru telah menembus angka 17.163 kasus,” kata Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Banjarbaru, Dr. Siti Ningsih belum lama ini.

Menariknya, data Dinkes mengungkapkan fakta bahwa kelompok usia dewasa atau produktif (19–59 tahun) menjadi korban terbanyak dengan persentase mencapai 36,9 persen atau setara 6.326 kasus.

Pemicunya adalah faktor mobilitas. Kelompok ini aktif bekerja di luar ruangan sehingga lebih sering menghirup polusi, debu, dan paparan asap kebakaran lahan.

“Secara epidemiologi, jelas ada korelasi antara asap karhutla dengan risiko gangguan pernapasan. Asap tersebut membawa partikel halus berbahaya seperti PM2.5 dan PM10 yang memicu iritasi takaran parah,” papar Ningsih.

Meski orang dewasa mendominasi secara jumlah, Ningsih mengingatkan bahwa kelompok balita (0-5 tahun) tetap menjadi yang paling rentan secara medis.

Saat ini, kasus pada balita bertengger di urutan kedua dengan porsi 27,1 persen atau sebanyak 4.645 kasus.

Sistem pernapasan anak-anak yang belum sempurna membuat mereka sangat cepat mengalami fatalitas jika terus-menerus menghirup udara berkualitas buruk. Selain balita, lansia dan ibu hamil juga masuk dalam radar pengawasan ketat.

Mengantisipasi situasi yang kian memburuk, Ningsih meminta masyarakat mulai membatasi aktivitas luar ruangan yang tidak mendesak, terutama saat kabut asap pekat mulai menyelimuti pemukiman. (Hasan/Razie)

Related posts

Kalsel Tetapkan Siaga Darurat Karhutla, Muhidin Minta Semua Daerah Siap

razie albanjari

Kedapatan Titip Absen, Sejumlah ASN Pemko Banjarmasin Terancam Sanksi

razie albanjari

21 Titik Hidran Bermasalah, BPBD Banjarbaru Minta Relawan Berangkat dengan Tangki Penuh

razie albanjari

Leave a Comment