BANJARMASIN, tilikbanua.com – Semarak peringatan Hari Kemerdekaan ke-81 Republik Indonesia terasa berbeda di lingkungan SD Islam Terpadu (SDIT) Ukhuwah dan SDIT Ukhuwah 2 Banjarmasin, Jumat (14/8/2026).
Bukan sekadar perlombaan untuk mencari pemenang, rangkaian kegiatan kemerdekaan dikemas dengan menyisipkan nilai akhlak, kemandirian, prestasi hingga kepedulian terhadap lingkungan.
Salah satu yang paling menarik perhatian siswa adalah Lomba Makan Kerupuk Syar’i. Berbeda dengan lomba makan kerupuk pada umumnya, para peserta diwajibkan mengikuti tata cara yang menekankan adab.
Sebelum memulai perlombaan, siswa harus duduk dengan tertib dan terlebih dahulu membaca doa. Setelah itu, barulah mereka berlomba menghabiskan kerupuk yang telah disediakan.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SDIT Ukhuwah dan SDIT Ukhuwah 2, Noormilawati, S.Pd, mengatakan konsep tersebut sengaja dibuat agar kegiatan yang bersifat hiburan tetap menjadi sarana pendidikan karakter bagi peserta didik.
“Lomba makan kerupuknya secara syar’i. Jadi anak-anak duduk dulu, membaca doa, baru makan kerupuk. Jadi bukan hanya lombanya, tetapi adabnya juga kami tanamkan,” ujar Noormilawati saat ditemui, Jumat (14/8/2026).
Lomba tersebut diikuti siswa dari kelas 1 hingga kelas 6. Selain lomba makan kerupuk, setiap jenjang juga diberikan ruang untuk menggelar berbagai kegiatan sesuai kesepakatan masing-masing.
Semarak kemerdekaan juga semakin terasa melalui bazar makanan dan minuman yang melibatkan seluruh jenjang. Para siswa diberikan kesempatan untuk belajar melakukan transaksi sekaligus mengenal aktivitas kewirausahaan sejak dini.
Untuk siswa kelas 1, 2 dan 3, sekolah memperbolehkan membawa uang maksimal Rp15 ribu untuk berbelanja. Sementara siswa kelas 4, 5 dan 6 diperbolehkan membawa uang hingga Rp30 ribu.
Namun, sekolah tetap memberikan perhatian terhadap jenis jajanan yang dijual. Makanan yang ditawarkan diseleksi agar sesuai dengan lingkungan sekolah dan tidak didominasi jajanan yang kurang sehat.
“Jajanan yang dijual kami selektifkan. Tidak ada chiki-chiki. Kami arahkan kepada makanan yang diolah dan lebih sesuai untuk anak-anak,” jelasnya.
Antusiasme siswa terhadap bazar pun, lanjut Noormilawati, disebut sangat tinggi. Bahkan, menurutnya, ada siswa yang berharap kegiatan seperti itu dapat digelar lebih sering.
“Antusias anak-anak luar biasa. Bahkan ada yang sampai meminta kalau bisa bazarnya setiap hari,” ungkapnya.
Ia menambahkan, bagi sekolah, bazar bukan semata-mata kegiatan jual beli. Di balik keseruannya, terdapat tujuan pendidikan untuk menumbuhkan jiwa entrepreneur dan kemandirian peserta didik.
Di mana khusus siswa kelas 6, kegiatan kewirausahaan semakin terasa karena mereka juga mendapatkan agenda Market Day. Para siswa berkesempatan merasakan langsung pengalaman menjual produk kepada teman-temannya.
“Tujuannya supaya anak-anak punya pengalaman. Jadi mereka belajar bagaimana berjualan, bertransaksi, dan menumbuhkan jiwa entrepreneur,” katanya.
Selain lomba makan kerupuk dan bazar, ada pula lomba pembuatan video klip lagu “Rukun Sama Teman” yang diikuti siswa dari kelas 1 hingga kelas 6 berdasarkan jenjang. Video tersebut akan dinilai dan diumumkan pada 31 Agustus 2026.
Salah satu unsur penilaian dilakukan melalui jumlah like atau respons publik di tiga platform media sosial sekolah, yakni YouTube, TikTok dan Instagram.
Noormilawati menegaskan, seluruh kegiatan dirancang tidak hanya untuk menciptakan suasana meriah, tetapi tetap mengacu pada visi SDIT Ukhuwah dan SDIT Ukhuwah 2, yakni membentuk peserta didik yang berakhlak, berprestasi, mandiri dan berwawasan lingkungan.
“Yang pertama tentu untuk memeriahkan. Tetapi yang terpenting, semua kegiatan tetap kami sesuaikan dengan visi sekolah, yaitu berakhlak, berprestasi, mandiri dan berwawasan lingkungan,” tuturnya.
Nilai-nilai tersebut, lanjutnya, diupayakan hadir dalam setiap aktivitas siswa. Bahkan dalam perlombaan sederhana seperti makan kerupuk, anak-anak tetap diarahkan untuk memperhatikan adab sebelum mengikuti kegiatan.
“Momentum ini sebagai ruang belajar yang menyenangkan—mengajarkan akhlak, keberanian berprestasi, kemandirian, kepedulian lingkungan dan jiwa kewirausahaan sejak usia sekolah dasar,” pungkasnya.


