BANJARBARU, tilikbanua.com – Beberapa titik api kebakaran hutan dan lahan (karhutla) secara bersamaan ditemukan melalap kawasan Kecamatan Liang Anggang dan Landasan Ulin pada Selasa (18/8/2026 sore.
Titik api terpantau membakar daerah Pengayuan di Kelurahan Landasan Ulin Selatan hingga Jalan Peramuan Ujung di Kelurahan Landasan Ulin Tengah.
Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan, Hanif Faisol Nurofiq, turun langsung memimpin aksi pemadaman di lapangan setelah sebelumnya menggelar rapat koordinasi lintas instansi di Posko Pantau Pengayuan.
“Hari ini semakin banyak titik api yang harus kita hadapi bersama. Berdasarkan dokumen saintifik dari BMKG, bulan ini kita memasuki zona El Nino Ekstrem dengan indeks sampai di angka 2,7,” kata Hanif Faisol Nurofiq sebelum meninjau titik api kebakaran.
Hanif menjelaskan bahwa fenomena iklim ekstrem ini diperkirakan berlangsung cukup lama dan memuncak pada akhir tahun.
“Dokumen tersebut menyatakan bahwa kondisi ekstrem ini akan berlangsung sampai bulan November, kemudian baru akan turun mendekati angka sedang di bulan Februari 2027. Jadi mulai bulan Agustus sampai bulan Februari, hampir tujuh bulan kita akan bergelut dengan kondisi panas ini,” ujar Hanif.
Ancaman kekeringan semakin parah akibat kombinasi fenomena global dari Samudra Pasifik dan Samudra Hindia.
“Selain El Nino, indikator dari Indian Ocean Dipole atau IOD juga menunjukkan nilai positif. Artinya, fenomena ini akan membawa awan kering ke wilayah Indonesia. Tiga hal yaitu El Nino, IOD positif, dan musim kemarau wajib benar-benar kita waspadai,” tuturnya.
Ia menambahkan bahwa mayoritas wilayah Indonesia kini sudah terdampak kemarau panjang. Seperti berdasarkan data BMKG, sebanyak 90 persen daerah di Indonesia telah mengalami curah hujan rendah, bahkan 84 persen di antaranya berada di bawah normal.
“Dari 699 zona musim di Indonesia, sekitar 530 di antaranya sudah memasuki musim kemarau,” tambahnya.
Menghadapi masa kritis ini, Hanif menekankan pentingnya sinergi dari seluruh elemen masyarakat dan sektor swasta di bawah koordinasi Satgas Karhutla Provinsi Kalimantan Selatan.
“Kondisi ini mengharuskan kita semua berkolaborasi intensif di bawah koordinasi satgas penanggulangan karhutla provinsi yang dibimbing oleh Bapak Gubernur. Pemerintah provinsi, TNI-Polri, dan BNPB tidak mungkin mampu menyelesaikan ini sendiri. Unit-unit usaha di Kalimantan Selatan diharapkan mampu berkolaborasi dan bergantian secara estafet selama tujuh bulan ke depan,” ucap Hanif.
Selain penanganan fisik di lapangan, langkah pencegahan berbasis masyarakat dan kewaspadaan terhadap krisis air bersih juga menjadi fokus utama.
Termasuk kata dia pendekatan sosial masyarakat harus semua bergerak semua. Kegiatan komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) harus dibangun secara sistematis pada titik-titik potensi kebakaran yang sering muncul.
“Selain karhutla, bencana ikutan seperti pengeringan sumber-sumber air juga wajib kita antisipasi. Jika kita bergotong royong dan memaksimalkan semua sumber daya, insya Allah kita bisa lalui bersama,” tutup Hanif. (Caca/Razie)


