tilikbanua.com
Pendidikan

Tantangan FTK di Tengah Era AI, FORDETAK Dorong Lahirnya Guru Berkualitas dan Adaptif

BANJARMASIN, tilikbanua.com – Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) menghadapi tantangan besar di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan meningkatnya pilihan generasi muda terhadap bidang digital. Tantangan tersebut tidak hanya menyangkut bagaimana mencetak guru profesional, tetapi juga memastikan program studi kependidikan tetap menjadi pilihan utama calon mahasiswa.

Hal itu mengemuka dalam Forum Dekan Tarbiyah dan Keguruan (FORDETAK) 2026 yang digelar di Banjarmasin, Rabu (12/8/2026). Forum tersebut menjadi ruang bagi para pimpinan FTK Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) se-Indonesia untuk merumuskan strategi bersama menghadapi perubahan pendidikan, perkembangan kecerdasan buatan (AI), hingga persoalan menurunnya minat mahasiswa pada sejumlah program studi kependidikan.

Dalam sambutannya, Rektor UIN Antasari Banjarmasin, Prof. Hj. Nida Mufidah, M.Pd, mengatakan FTK dituntut terus berkembang agar mampu menghasilkan guru profesional yang relevan dengan kebutuhan zaman.

Menurutnya, perkembangan teknologi, termasuk AI, harus menjadi perhatian serius bagi Fakultas Tarbiyah dan Keguruan. Perguruan tinggi tidak boleh hanya mencetak lulusan dengan kompetensi akademik, tetapi juga harus membekali calon guru dengan kemampuan yang sesuai dengan perubahan dunia pendidikan.

“Kita tertantang untuk terus berkembang bagaimana menghasilkan seorang guru profesional. Kita pun harus mengikuti perubahan dan memberikan pembendaharaan yang banyak kepada adik-adik kita, calon-calon guru,” ujarnya.

Ia mengakui, perkembangan teknologi digital dapat memengaruhi pilihan generasi muda dalam menentukan program studi. Ketika bidang digital dan teknologi semakin menarik perhatian, FTK harus mampu menunjukkan bahwa profesi guru tetap memiliki masa depan yang strategis.

Karena itu, kata Nida, pihaknya berupaya memaksimalkan seluruh potensi yang dimiliki agar Fakultas Tarbiyah dan Keguruan tetap menjadi pilihan pertama dan favorit bagi calon mahasiswa.

“Kita berupaya mencetak guru-guru yang tentu akan menjadi guru-guru yang bisa menggantikan guru-guru yang akan purna tugas dan menjadi jumlah yang lebih dominan,” katanya.

Namun, upaya tersebut masih menghadapi pekerjaan rumah. Nida menyebut masih terdapat sejumlah program studi di lingkungan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan yang jumlah mahasiswanya belum mengalami pertumbuhan signifikan atau cenderung stagnan.
Padahal, dari sisi kualitas tenaga pengajar maupun infrastruktur, menurutnya, perguruan tinggi saat ini telah mengalami perkembangan yang cukup baik.

“Dosen-dosen saat ini sudah luar biasa, infrastrukturnya bagus. Tantangan kita bagaimana menambah jumlah mahasiswa itu lebih banyak lagi,” jelasnya.

Persoalan tersebut, lanjut Nida, tidak dapat diselesaikan oleh satu perguruan tinggi secara sendiri-sendiri. Diperlukan kolaborasi antar-FTK PTKIN untuk merumuskan strategi bersama, termasuk melakukan inovasi dalam menarik minat generasi muda.

“Di forum ini kita bersama-sama akan merumuskan. Saya yakin visinya pun juga bersama-sama. Ada upaya dan keinginan kita untuk berinovasi bersama-sama yang tentu saja memerlukan kolaborasi yang solid,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua FORDETAK Periode 2024–2026, H. Fakri Hamdani, M.Hum., M.Res., Ph.D, menilai penguatan kualitas guru harus menjadi perhatian bersama karena kualitas pendidikan suatu bangsa sangat ditentukan oleh kualitas pendidiknya.

Ia mengatakan FORDETAK juga tengah mencermati perkembangan regulasi pendidikan nasional, termasuk keberadaan RUU Sisdiknas yang baru diharapkan dapat memberikan arah baru terhadap kompetensi dan profil lulusan guru di masa mendatang.

“Kita juga sedang menantikan RUU Sisdiknas yang mungkin akan segera diluncurkan. Jika kita memperjuangkan beberapa kompetensi itu bisa menjadi profil lulusan yang baik bagi guru-guru di masa yang akan datang,” katanya.

Salah satu persoalan yang turut menjadi perhatian FORDETAK, lanjutnya adalah menurunnya minat mahasiswa terhadap sejumlah program studi, khususnya bidang Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) pada Fakultas Tarbiyah dan Keguruan.
Fakri menyebut kondisi tersebut terjadi di berbagai daerah sehingga membutuhkan strategi khusus.

Salah satu gagasan yang tengah dikembangkan adalah memperkuat kerja sama dengan sekolah-sekolah untuk membuka akses lebih luas bagi siswa berprestasi agar melanjutkan pendidikan ke FTK.

“Strateginya adalah bagaimana cara kita menghimpun atau mengajak mereka untuk bisa masuk ke beberapa prodi MIPA di Fakultas Tarbiyah dan Keguruan,” katanya.

Salah satu skema yang dapat dikembangkan, menurutnya, adalah kerja sama dengan sekolah melalui pemberian akses khusus bagi siswa berprestasi.

“Termasuk salah satunya adalah kerja sama dengan sekolah untuk memberikan karpet merah, misalnya pada 10 besar di sekolah untuk bisa langsung masuk ke kampus,” jelasnya.

Di sisi lain, Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Antasari Banjarmasin, Dr. H. Hamdan, M.Pd, dalam laporannya menyampaikan FORDETAK 2026 diikuti perwakilan dari 44 PTKIN dari total 58 PTKIN di Indonesia.

Jumlah peserta mencapai 166 orang yang terdiri atas dekan, wakil dekan, dan kepala bagian tata usaha. Kegiatan berlangsung pada 12–14 Agustus 2026.

“Peserta terjauh berasal dari UIN Ar-Raniry Banda Aceh dan IAIN Sorong Papua. Sementara peserta terbanyak berasal dari UIN Ponorogo dan UIN Yogyakarta, masing-masing delapan orang perwakilan,” pungkasnya.

Related posts

Meriah! SMAN 1 Anjir Pasar Gelar Puncak HUT ke-30 Lewat Seni Tradisional dan Jalan Santai

razie albanjari

Keceriaan Family Gathering Kelas 1 SDIT Ukhuwah dan SDIT Ukhuwah 2, Saat Anak dan Orang Tua Menorehkan Kenangan Bersama.

razie albanjari

Hadrah, Balon, dan Senyum Ceria Warnai Hari Pertama MPLS SD Islam Terpadu Ukhuwah dan SD Islam Terpadu Ukhuwah 2.

razie albanjari

Leave a Comment