BANJARMASIN, tilikbanua.com — Peristiwa ambruknya jembatan kayu di Sungai Saka Harang, Kelurahan Mantuil, Kecamatan Banjarmasin Selatan, menjadi perhatian serius Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Banjarmasin.
Kejadian ini memicu evaluasi menyeluruh terhadap kondisi ratusan jembatan berkonstruksi kayu yang tersebar di wilayah Kota Seribu Sungai.
Kepala Bidang Jalan dan Jembatan Dinas PUPR Kota Banjarmasin, Kartika Estaurina, mengungkapkan bahwa pihaknya rutin melakukan pendataan berkala untuk memastikan kelaikan infrastruktur penyeberangan di Banjarmasin.
“Setiap tahun kita ada survei kondisi jembatan dan jalan untuk mendapatkan data teknis DD2. Di Kota Banjarmasin tercatat ada 519 buah jembatan dengan berbagai jenis konstruksi, mulai dari box culvert, gelagar baja, beton, hingga gelagar kayu,” ujar Kartika Selasa (01/09/2026).
Kartika menjelaskan, sebagian besar jembatan yang ada di Banjarmasin masih memakan konstruksi kayu.
Berdasarkan hasil survei teknis, jembatan-jembatan kayu tersebut memang memerlukan perbaikan, pemeliharaan berkala, hingga penggantian total—terutama pada ruas jalan yang sering dilintasi kendaraan berbeban berat.
”Kapasitas jembatan kayu pada dasarnya tidak dirancang untuk menahan beban yang sangat besar. Untuk ruas yang sering dilalui angkutan berat, jembatan kayu idealnya diganti dengan girder beton atau baja. Namun karena biayanya cukup besar, proses penggantian kami lakukan bertahap berdasarkan skala prioritas dan tingkat kerusakan,” jelasnya.
Dari hasil kajian kelayakan jembatan yang dilakukan PUPR, beberapa titik jembatan di Banjarmasin kini masuk dalam daftar pengawasan ketat. Salah satunya adalah jembatan menuju Pelabuhan Bawang di kawasan Mantuil.
Hasil uji kelayakan menunjukkan sisa umur teknis jembatan tersebut diperkirakan tinggal 5 tahun, sehingga direkomendasikan untuk segera dibongkar dan diganti.
Selain di Mantuil, pihak PUPR juga mencatat beberapa jembatan lain yang mengalami kerusakan struktur seperti penurunan dan lendutan, di antaranya di kawasan Jembatan Tembus Mantuil, Alalak Utara, serta Sungai Gampa.
Sebagai langkah penanganan jangka pendek untuk mencegah kejadian serupa di Sungai Saka Harang, Dinas PUPR Kota Banjarmasin akan berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan (Dishub) untuk mengantisipasi beban berlebih.
“Rencananya pada anggaran perubahan nanti akan ada alokasi perbaikan. Namun untuk saat ini, langkah awal yang kami ambil bersama Dishub adalah memasang pembatas muatan kendaraan di jembatan-jembatan yang rawan,” tutur Kartika.
Khusus untuk jembatan-jembatan kayu lainnya di kawasan Mantuil, PUPR Banjarmasin juga telah berkoordinasi dengan Dinas PUPR Provinsi Kalimantan Selatan, mengingat status beberapa ruas jalan di wilayah tersebut masuk dalam kategori jalan strategis provinsi. (Rian/Razie)


